Suku bangsa batak toba merupakan salah satu suku bangsa terbesar di indonesia. Suku bangsa ini menempati daerah sumatera utara, di sekitar lembah bukit barisan dan di sepanjang garis pantai danau toba. Suku bangsa batak merupakan suku yang mayoritas menganut agama kristen. walaupun demikian suku bangsa batak merupakan salah satu suku bangsa yang patuh terhada aturan-aturan nenek moyang mereka dan patuh terhadap adat istiadat. Hal ini di tandai dengan uppasa suku batak toba yang berbunyi :
Oppu ta si jolo-jolo tubu moyang kita yang lahir duluan.
Martungkot siala gundi bertongkat kayu siala gundi.
Na pinnuka ni naparjolo yang di mulai orang duluan.
Ihut hon ni naparpudi di ikuti orang yang dibelakang.
Sebuah di lema di dalam kehiduphan sehari-hari suku batak toba, juga dalam kehidupan adat (paradaton). banyak terjadi kasus-kasus gender( penolakan dan pengecualian terhadap peran serta kedudukan perempuan). Dalam tulisan ini Akan penulisan jelaskan apa dan bagaimanakah kasus-kasus gender dalam kehidupan sehari-hari suku batak toba dan juga dalam kehidupan paradaton (adat).
Secara sederhana gender dapat diartikan sebagai perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dengan perempuan. Gender ini bukanlah hasil ciptaan tuhan (koodrati), tetapi gender adalah suatu hubungan yang di bentuk dalam masyarakat dimana masyarakat itulah sebagai pembuatnya (yang mengkonstruksikan). Hal ini membuat adanya stigma (cara pandang) terhadap wanita bahwa perempuan itu lemah dan tidak berdaya.begitu juga lah yang terjadi dalam kehidupan paradaton orang batak toba.
Berikut ini adalah beberapa kasus gender dalam kehidupan orang batak toba :
1. masyarakat batak toba adalah masyarakat yang menganut sistem kekerabatan patrilineal (berdasarkan garis keturunan dari pihak laki-laki). Dalam pembagian harta warisan selalu saja laki-laki yang mendapat bagian yang terbesar, sangat jarang harta warisan di berikan kepada perempuan. Hal ini memperlihatkan adanya kesenjangan dalam hal pembagian harta warisan di dalam adat batak toba. Perempuan dalam lingkungan adat selalu di nomor duakan. Dalam adat batak toba sangat jarang anak perempuan menerima harta warisan.
2. dalam kehidupan sosial, masyarakat batak selalu di hadapkan dengan berbagai upacara / pesta ( pesta perkawinan, pesta kematian) dan upacara seremonial lainnya. Di dalam upacara seremonial tersebut biasanya terdapat suatu diskusi, diskusi itu dapat berupa diskusi tentang masalah-masalah dalam upacara itu. Di sini pihak laki-laki sangat dominan perannya, saking dominannya peran laki-laki ini sampai-sampai wanita tidak di beri kesempatan untuk ikut duduk bersama membicarakan masalah tersebut, apalagi sampai ingin memberikan saran dan masukan. Akan terdengar ocehan dari para bapak-bapak “ hamui akka ina i , hu pudian jo hamu, mardebban majo hamu”. Kalian semua para wanita, kebelakang saja, sirih kalian itu saja makan. Hal ini menggambarkan bahwa peran wanita dalam masyarakat sangat di batasi oleh laki-laki. Sehinnga perempuan cenderung memilih pasif dan diam saja.
3. masih dalam pesta paradaton, masyarakat batak toba selalu di hadapkan dengan apa yang kita kenal dengan tor-tor (tarian khas masyarakat batak toba). Dalam tor-tor ini peran wanita sangat-sangat jelas kelihatan, para wanita tidak berani menari di depan suaminya, malahan perempuan batak yang menari berdiri di belakang suaminya, bukan karena takut. Tetapi sudah begitulah pandangan laki-laki batak terhadap perempuan batak. Hal ini mengambarkan bahwa dalam upacara seremonial batak toba , wanita masih berada dalam bayang-bayang dominasi pihak laki-laki.
4. dalam kehidupan keseharian , dalam hal pengambilan keputusan pihak wanita juga cenderung menyerahkan hak mengambil keputusan kepada pihak laki-laki.” Bapakmu ma suukun bah”. Ayah mu saja tanya mengenai hal ini. Hal ini juga menggambarkan bahwa pihak laki-laki masih memiliki nperan dominan dari pada wanita.
Tetapi walaupun banyak diskriminasi yang di terima dan di hadapi perempuan batak toba. Mereka memiliki banyak kelebihan di bandingkan dengan wanita dari suku lain di lihat dari sudut pandang ekonomi.
Perempuan batak di kenal sebagai wanita yang gagah dan perkasa, mereka akan rela berjuang mati-matian membantu suami mereka demi menghidupi rumahtangga mereka. Perbandingannya dengan wanita dari suku lainnya ( jawa). Wanita jawa memang pintar mengambil hati suaminya, tetapi jika suaminya memberikan uang mereka akan langsung menghabiskannya tanpa memikirkan hari besok, lain halnya dengan wanita batak , mereka memang tidak pintar mengambil hati suaminya, tetapi jika suaminya memberikan uang belanja, berapapun itu pasti mereka bisa mencukupi kebutuhannya. Malahan jika kurang perempuan batak pasti pintar mencari uang tambahan sekalipun itu itu harus bersusah payah. Wanita batak juga di kenal sebagai “parbahul-bahul na bolon”. Apapun yang tersedia mereka akan mampu mencukupinya. Bukan hanya itu wanita batak juga mendapat gelar “ parengge-rengge”,wanita penjual sayur. saking gigihnya dan kuatnya dalam mengarungi perekonomian rumahtangganya. Akhir kata , seharusnya wanita batak di beri hak berdemokrasi dalam paradaton karena banyak wanita batak yang mampu berperan sama dengan laki-laki.
Di kutip: dari berbagai sumber
apakah wanita batak akan selamanya berada dalam bayang-bayang dominasi laklaki????
BalasHapus