Suku bangsa batak toba merupakan salah satu suku bangsa terbesar di indonesia. Suku bangsa ini menempati daerah sumatera utara, di sekitar lembah bukit barisan dan di sepanjang garis pantai danau toba. Suku bangsa batak merupakan suku yang mayoritas menganut agama kristen. walaupun demikian suku bangsa batak merupakan salah satu suku bangsa yang patuh terhada aturan-aturan nenek moyang mereka dan patuh terhadap adat istiadat. Hal ini di tandai dengan uppasa suku batak toba yang berbunyi :
Oppu ta si jolo-jolo tubu moyang kita yang lahir duluan.
Martungkot siala gundi bertongkat kayu siala gundi.
Na pinnuka ni naparjolo yang di mulai orang duluan.
Ihut hon ni naparpudi di ikuti orang yang dibelakang.
Sebuah di lema di dalam kehiduphan sehari-hari suku batak toba, juga dalam kehidupan adat (paradaton). banyak terjadi kasus-kasus gender( penolakan dan pengecualian terhadap peran serta kedudukan perempuan). Dalam tulisan ini Akan penulisan jelaskan apa dan bagaimanakah kasus-kasus gender dalam kehidupan sehari-hari suku batak toba dan juga dalam kehidupan paradaton (adat).
Secara sederhana gender dapat diartikan sebagai perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dengan perempuan. Gender ini bukanlah hasil ciptaan tuhan (koodrati), tetapi gender adalah suatu hubungan yang di bentuk dalam masyarakat dimana masyarakat itulah sebagai pembuatnya (yang mengkonstruksikan). Hal ini membuat adanya stigma (cara pandang) terhadap wanita bahwa perempuan itu lemah dan tidak berdaya.begitu juga lah yang terjadi dalam kehidupan paradaton orang batak toba.
Berikut ini adalah beberapa kasus gender dalam kehidupan orang batak toba :
1. masyarakat batak toba adalah masyarakat yang menganut sistem kekerabatan patrilineal (berdasarkan garis keturunan dari pihak laki-laki). Dalam pembagian harta warisan selalu saja laki-laki yang mendapat bagian yang terbesar, sangat jarang harta warisan di berikan kepada perempuan. Hal ini memperlihatkan adanya kesenjangan dalam hal pembagian harta warisan di dalam adat batak toba. Perempuan dalam lingkungan adat selalu di nomor duakan. Dalam adat batak toba sangat jarang anak perempuan menerima harta warisan.
2. dalam kehidupan sosial, masyarakat batak selalu di hadapkan dengan berbagai upacara / pesta ( pesta perkawinan, pesta kematian) dan upacara seremonial lainnya. Di dalam upacara seremonial tersebut biasanya terdapat suatu diskusi, diskusi itu dapat berupa diskusi tentang masalah-masalah dalam upacara itu. Di sini pihak laki-laki sangat dominan perannya, saking dominannya peran laki-laki ini sampai-sampai wanita tidak di beri kesempatan untuk ikut duduk bersama membicarakan masalah tersebut, apalagi sampai ingin memberikan saran dan masukan. Akan terdengar ocehan dari para bapak-bapak “ hamui akka ina i , hu pudian jo hamu, mardebban majo hamu”. Kalian semua para wanita, kebelakang saja, sirih kalian itu saja makan. Hal ini menggambarkan bahwa peran wanita dalam masyarakat sangat di batasi oleh laki-laki. Sehinnga perempuan cenderung memilih pasif dan diam saja.
3. masih dalam pesta paradaton, masyarakat batak toba selalu di hadapkan dengan apa yang kita kenal dengan tor-tor (tarian khas masyarakat batak toba). Dalam tor-tor ini peran wanita sangat-sangat jelas kelihatan, para wanita tidak berani menari di depan suaminya, malahan perempuan batak yang menari berdiri di belakang suaminya, bukan karena takut. Tetapi sudah begitulah pandangan laki-laki batak terhadap perempuan batak. Hal ini mengambarkan bahwa dalam upacara seremonial batak toba , wanita masih berada dalam bayang-bayang dominasi pihak laki-laki.
4. dalam kehidupan keseharian , dalam hal pengambilan keputusan pihak wanita juga cenderung menyerahkan hak mengambil keputusan kepada pihak laki-laki.” Bapakmu ma suukun bah”. Ayah mu saja tanya mengenai hal ini. Hal ini juga menggambarkan bahwa pihak laki-laki masih memiliki nperan dominan dari pada wanita.
Tetapi walaupun banyak diskriminasi yang di terima dan di hadapi perempuan batak toba. Mereka memiliki banyak kelebihan di bandingkan dengan wanita dari suku lain di lihat dari sudut pandang ekonomi.
Perempuan batak di kenal sebagai wanita yang gagah dan perkasa, mereka akan rela berjuang mati-matian membantu suami mereka demi menghidupi rumahtangga mereka. Perbandingannya dengan wanita dari suku lainnya ( jawa). Wanita jawa memang pintar mengambil hati suaminya, tetapi jika suaminya memberikan uang mereka akan langsung menghabiskannya tanpa memikirkan hari besok, lain halnya dengan wanita batak , mereka memang tidak pintar mengambil hati suaminya, tetapi jika suaminya memberikan uang belanja, berapapun itu pasti mereka bisa mencukupi kebutuhannya. Malahan jika kurang perempuan batak pasti pintar mencari uang tambahan sekalipun itu itu harus bersusah payah. Wanita batak juga di kenal sebagai “parbahul-bahul na bolon”. Apapun yang tersedia mereka akan mampu mencukupinya. Bukan hanya itu wanita batak juga mendapat gelar “ parengge-rengge”,wanita penjual sayur. saking gigihnya dan kuatnya dalam mengarungi perekonomian rumahtangganya. Akhir kata , seharusnya wanita batak di beri hak berdemokrasi dalam paradaton karena banyak wanita batak yang mampu berperan sama dengan laki-laki.
Di kutip: dari berbagai sumber
Rabu, 29 September 2010
Selasa, 28 September 2010
MASYARAKAT DAN KEHIDUPAN KOTA
(Fenomena pergeseran sikap tinggal penduduk kota di Indonesia)
A. Kota dan pengertiannya
Schroorl ( dengan mengutip lopez) , dalam modernisasi 1981 mengatakan bahwa arti kota yang pertama adalah yang terdapat dalam sisitem hiroglif ( goresan suci, yakni tulisan perlambang yang terdapat pada piramida) Mesir kuno. Dalam sistem ini “ KOTA” di gambarkan sebagai lingkaran dengan mempunyai palang bergaris ganda didalamnya. Tanda atau symbol ini di kenal dengan sebutan “NIUT” sebagai persimpangan jalan, atau pertemuan pendapat. Lingkarannya di artikan serbagai tembok atau pagar bentengnya, dan ini di madsudkan sesuatu yang kompak dan tertutup.
Tetapi pengertian kota belum mendapat defenisi yang pasti, hal ini di sebabkan banyaknya para ahli yang memberikan pemikirannya tentang kota.di bawah ini adalah defenisi kota :
• Louis Wirth kota adalah a relatively large, dense and permanent settlement of socially heterogenous individuals. “ kota adalah wilayah yang relatif luas, penduduk padat, dengan tempat tinggal yang menetap dan terdiri dari berbagai individu.
• N. Daeljoeni kota adalah suatu permukiman dengan kepadatan penduduk yang lebih besardaripada kepadatan wilayah nasional, dengan stuktur mata pencaharian non agraris dan tata guna tanah yang beraneka ragam serta dengan pergedungan yang berdirinya berletakan.
• Dari segi fisik kota adalah suatu permukiman yang mempunyai bangunan-bangunan perumahan yang berjarak relatif rapat dan mempunyai sarana-sarana dan prasarana- prasarana serta fsilitas-fasilitas yang relatif memadai guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup penduduknya. Yang utama dari sini adalah gedung-gedung dan bangunan-bangunan yang letaknya saling berdekatan dan memiliki sarana dan prasarana umum seperti jalanan, air dan penerangan, sarana ibadah, pemerintahan, rekreasi dan olahraga, ekonomi, komunikasi, serta lembaga-lembaga yang mengatur kehidupan bersama penduduknya.
• Dari segi jumlah penduduknya, menurut The United States Bureau of the Cencus menentukan jumlah 2500 jiwa, PBB mengajukan angka 200.000 jiwa, Kingsley Davis mengatakan 100.000 jiwa.
Menurut Drs. J.H.De Goode ciri-ciri wilayah di katak sebagai kota adalah :
1. Peranan besar di pegang oleh sector sekunder ( industry) dan tersier ( jasa) dalam kehidupan ekonomi.
2. Jumlah penduduk yang relatif besar.
3. Heterogenitas (keanekaragaman) susunan penduduknya.
4. Kepadatan penduduk yang relatif besar.
Gino Germani mengemukakan bahwa arti kota ( urban) dapat di tinjau dari 2 sudut, yaitu :
Sudut Demografis.
Sudut Sosiologis.
Dari sudut Demografis, kota dapat diartikan sebagai suatu pengelompokan orang-orang atau penduduk ke dalam suatu ukuran tertentu , dan dalam suatu wilayah tertentu.
Dari sudut Sosiologis, kota haruslah mencakup stuktur sosial dan pola-pola psikologis dan prilaku dengan mempostulatkan bahwa masyarakat kota adalah berbeda dari masyarakat desa.
Dalam literature Anglo-Amerika, terdapat 2 istilah yang memaksudkan “kota”, yakni “ town” dan “city”. Town diartikan sebagai bentuk tengah diantara kota dan desa. Penduduk Town masih saling mengenal dengan akrab.perilaku sosial dalam Town lebih mirip dengan pedesaan bil di bandingkan dengan pola prilaku di kota besar ( city) atau metropolitan. Mengenai jumlah penduduk , tidak terdapat suatu kesepakatan.
Kota kota di Indonesia dapat di lihat dan di kenali menurut statusnya dan stuktur ketatanegaraannya dan pemerintahannya (administrasinya). Kita dapat menjumpai kota-kota kecilnya yang pada umumnya adalahibukota kabuopaten dan ibukota kecamatan. Sitingkat lebih tinggi ialah kotamadya ( kotapraja) yang sejajar dengan daerah otonom tingkat II. Kotamadya atau kotapraja ini berstatus otonom karena di beri hak untuk mengatur dan mengurus rumahtangganya sendiri melalui sumber-sumber penghasilan yang terdapat di dalamnya. Sebahagian kotamadya ada juga yang berkebubukan sebagai ibukota pruvinsi, tetapi ada pula yang tidak. Misalnya kota Bogor ( Jawa Barat) dan Pare-Pare ( Sulawesi selatan). Tingkat kota yang lebih toinggi ialah kota metropolitan Jakarta., yang berstatus sebagai daerah otonom tingkat I ( Provinsi), dan sekaligus yang berkedudukan sebagai ibukota negara Indonesia. Dari segi perkembangannya, ada beberapa kota di Indonesia cenderung untuk menjadi sangat besar dan menjadi metropolitan. Misalnya kota Surabaya, Medan, Ujung Pandang.
Dari sudut karakter, perkembangan dan prtumbuhan kota-kota yang semakin besar, telah menunjukan adanya berbagai karakter pada kota-kota ini.Schrool , dalam hubungan ini mengambarkan suatu jenis kota yang di sebutnya “ kota primat”, yakni kota yang sangat besar, yang cenderung memperlihatkan watak parasitisme terhadap masyarakat nasional, dan berusaha menarik bagian-bagian modal yang relatif besar sehingga dapat menjadi hambatan bagi daerah-daerah pedesaan maupun kota-kota yang lebih kecil. Gejala ini kita temukan pada kota-kota di Jakarta. Pembangunan berbagai sarana dan prasarana ( jalan tol dan gedung bertingkat, gedung-gedung, tempat-tempat rekreasi dan olahraga) hal ini terjadi karena kedudukan kota Jakarta yang ganda . yakni sebagai ibukota negara dan sebagai pusat perdagangan dan niaga serta industry.
Menurut Lewis Mumford, ada 6 jenis kota di lihat dari tahap perkembangannya. Yaitu :
1. Eopolis kota yang merupakan suatu pusat dari daerah-daerah pertanian dan yang mempunyai adat-istiadat yang bercorak kedesaan dan sederhana.
2. Polis kota yang merupakan tempat berpusatnyakehidupan keagamaan dan pemerintahan. Bentuknya adalah bagaikan benteng yang kokoh yang di dalamnya terdapat tempat-tempat ibadah, pasar, dan industry-industri kecil ( gilda), lembaga pendidikan, tempat-tempat hiburan dan olahraga.
3. Metropolis kota yang di cirikan oleh wilayahnya yang kurang luas dan penduduknya yang banyak, terdiri dari orang-orang dari berbagai bangsa untuk berdagang dan tukar-menukar kekayaan budaya rohani. Juga terdapat percampuran perkawinan antar bangsa dan ras sehingga memunculkan filsafat dan kepercayaan baru. Secara fisik, perkembangan menjadi metropolis menunjikan sifat kemegahan, tetapi dari segi sosial memperlihatkan adanya kekontrasan antara golongan kaya dan golongan miskin.
4. Megalopolis kota yang merupakan lanjutan tingkat perkembangan dari kota metropolis. Pada tahap ini, gejala sosio-patologis sangat menonjol, di satu pihak terdapat kekuasaan dan kekayaan yang didukung oleh birokrasi yang ketat, tetapi di lain pihak terdapat kemiskinan dan keresahan yang semakin meluas dalam masyarakat, sehingga mendorong terjadinya pemberontakan kaum proletar.
5. Tiranopolis kota yang mencapai tingkat perkembangan demikian bi tandai dengan terjadinya degenerasi, merosotnra moral penduduk, adanya kejahatan dan kemaksiatan, dan timbulnya kekuatan politik baru dari kaum proletariat yang sewaktu-waktu akan melanda kota dengan pemberontakan.
6. Nekropolis kota yang telah mengalami kehancuran menjadi rangka (nekros= bangkai). Peradabannya runtuh dan kota menjadi puing-puing reruntuhan. Contoh kota yang berda dalam tahap ini adalah Babylon, Ninive, dan Romawi Kuno.
7. Gideon Sjorberg ( dalam Schrool), membahas kota-kota yang di bentuk sebelum revolusi industry, oleh Sjorberg, dinpandang sebagai suatu masyarakat tersendiri. Kota-kota ini mempunyai stuktur yang sangat mirip antara yang satu dengan lainnya. Terlepas dari pengaruh kebudayaan tempat kota itu berada, dan juga terlepas dari pengaruh zaman. Karena itu, kota-kota demikian berbeda secara fundamental dari kota-kota industry.
Kota-kota praindustri yang merupakan pusat masyarakat yang sudah kompleks, di sebut juga sebagai peradaban kuno, karena masihterikat dengan masyarakat pedesaan.perbedaan dengan desa ialah dalam hal bahwa kehidupan kota praindustri sudah mengalami pembesaran skala dan diferensiasi, pembagian kerja dan spesialis, sedangkan kegiatan yang dominan adalah non-agraris..
Hal lain yang menonjol dari kehidupan masyarakat kota industry adalah di kotomi dalam stuktur sosialnya, yakni dengan adanya lapisan atas dan lapisan bawah dalam stratifikasi sosialnya. Yang di sebut sebagai “ klas sosial”. Perilaku sosial sangat di tentukan oleh keanggotaan dalam klas sosial tertentu. Mobilitas sosial sangat rendah. Klas atas mempunyai pengaruh yang besar dalam masyarakat lokal dan masyarakat desa-desa sekitarnya. Klas atas menempati kedudukann-kedudukan yang tinggi dalan susunan birokrasi pemerintahan, militer dan agama. Klas bawah hanya menduduki jabatan-jabatan rendahan, pedagang, tukang dan prajurit. Dalam masyarakat ini juga telah terdapat pria-pria yang melakukan pekerjaan dan kegiatan yang di pandang kotor dan najis secara moral.
Perbedaan-perbedaan klas ini selanjutnya tampak dalam cara-cara berprilaku, berbicara, berpakaian dan masing-masing klas mengawasi para anggotanya dalam hal yang demikian. Perbedaan itu juga tampak pada permukiman dan perkampungan di kota. Pusat kota merupakan tempat para kaum elite, di mana terdapat pula gedung-gedung pemerintahan dan pusat-pusat agama. Klas bawah bertempat tinggal di sekitar pusat kota itu.
Kegiatan rumah tangga dan kegiatan mata pencaharian sudah terpisah. Klas atas memiliki kecenderungan yang kuatvuntujk mempertahankan posisi-posisi yang menguntungkan , baik bagi diri mereka sendiri maupun untuk anak cucu mereka. Sehingga timbullah penonjolan-penonjolan perbedaan itu dengan jalan menciptakan symbol-simbol dan tanda-tanda yang membedakan antara klas yang satu dengan klas yang lain. Hal ini selanjutnya yang mendorong di gunakannya ikatan kekerabtan dan kekeluargaan untuk menerima dan menyalurkan calon-calon untuk menduduki posisi-posisi yang menguntungkan. Karena itu kelompok kerabat masih mempunyai fungsi yang penting.
Dalam kota praindustri telah terdapat perbedaab dan spesialisasi dalam pembagian kerja. Spesialisasi dalam bidang pertukangan . misalnya terorganisir dalam bentuk “gilda-glda”. Organisasi gilda ini mengatur pemberian latihan kepada para anggotanya yang sering terdiri dari mereka yang mempunyai hubungan keluarga dan kerabat dengan pemimpin gilda. Gilda ini juga mengawasi kualitas dan harga barang-barang yang di produksi mereka. Karena itu, kedudukan gilda adalah kuat dalam menghadapi persaingan dari luar, sehingga anggota-anggotanya terlindung.
Tingkat spesialisasi dalam masyarakat praindustri memang masih jauh berbeda dari masyarakat industry . semua pekerjaan untuk menghasilkan barang masih di kerjakan sendiri oleh produsen. Pekerjaan itu di lakukan dengan cara manual (tangan) dan di bantu dengan alat-alat yang sederhana.produksi di tunjukan pada pasar yang kecil, pembaharuan-pembaharuan sangat lamban spesialisasi pertukangan hanya berdasarkan keahlian, bukan berdasarkan alat atau proses dan hampir semua kegiatan produksi menggunakan tenaga manusia dan hewan.
Diferensiasi masyarakat juga jelas tampak pada birokrasi pemerintahan. Pemimpin mempunyai kedudukan yang penting dalam urusan pengambilan keputusan . kurang di dasarkan pada peraturan-peraturan yang berlaku. Hubungan antara petugas-petugas dengan mereka yang di layani lebih banyak bersifat partikularistik daripada universalistic, termasuk dalam hal penerimaan pegawai. Oleh karena itu hubungan kekerabatan, kekeluargaan , hubungan kebangsaan dan klas memegang peranan yang penting dan dominan. Kecakapan, keahlian dan kepintaran menjadi prioritas kedua. Posisi sosial dan kekuasaan golongan elite di pertanggungjawabkan berdasarkan tradisi dan pandangan keagamaan.
Organisasi keagamaan mempunyai peran yang sangat penting dan dominan. Karena itu kaum elite agama mempunyai hebungan yang erat dengan kaum elite politik. Yang menjadi dasar kekuasaan agama adalah nilai agama yang menjadi faktor pemersatu masyarakat. Dalam masyarakt ini orde moral masih memainkan peranan yang penting, dan agama termasuk dalam bagiannya yang pokok.. dalam sistem keagamaan, keselurahan kepercayaan tercermin dalam pembedaan tradisi besar dan tradisi kecil, karena pengetahuan merupakan dasar kekuatan mereka atas masyarakat yang buta huruf.
Pandangan dan nilai agama mempengaruhi tingkah laku orang-orang kota praindustri. Upacara-upacara keagamaan merupakan mekanisme yang menunjang integritas masyarakat kota yang terpilah-pilah dan terkotak-kotak. Praktek religiomagik, yang di anggap mempunyai kekuatan untuk member perlindungan, memulihkan keadaan, atau dapat di gunakan untuk meramal. Waqlau begitu , kaum elite ini juga masih mengantungkan hidup mereka kepada lingkungan alam dan lingkungan sosial mereka.
Cara lain untuk mengartikan kota ini adalah dengan mengutip peryataan Hoselitz, beliau mengatakan bahwa kita harus membedakan 2 jenis kota, yakni kota sebagai pusat politik intelektual dan kota sebagai pusat ekonomi. Kota dengan pusat intelektual contohnya kota New Delhi ( India), Kota Quito, dan Peipeng. Sementara kota-kota sebagai pusat ekonomi contohnya Bombay, Guyanaquil, dan Shanghai. Sedangkan kota dengan dominasi politik contohnya Wasingthon D.C dan New Delhi.
Berdasarkan pembagian kota oleh Hoselitz tadi, maka Redfied dan Singer membagi kota sebagai berikut :
1. Kota budaya –administrasi ( kota sastra dan kota birokrasi pribumi). Contoh : Peipeng, Lhasa, Uaxactum, Kyoto,Liege, dan Allahabad.
2. Kota niaga pribumi ( Kota pengusaha. Contohnya : Kota Bruges, Marseilles, Lubeck).
3. Kota Metropolis dengan klas manajerial berskala dunia dan pengusaha. Contoh : London, hanghai, Singapura, dan Bombay. Dan kota-kota ini berkembang dengan pesat sesudah terjadinya oikumene unuiversal ( cities of the main street of the world).
4. Kota-kota administrasi yang modern ( Kota-kota dengan birokrasi baru). Contoh : Wasingthon D.C, New Delhi dan Canberra.
B. PERGESERAN SIKAP TINGGAL PENDUDUK KOTA DI INDONESIA
Pada umumnya golongan elite, mereka cenderung menjauhi pusat kota dan leboih ingin bertempat tinggal di pinggiran kota dan sub-urban region.pada umumnya kota-kota di Indonesia berkenbang secara sektoral. Artinya karena adanya pusat-pusat kegiatan di suatu tempat maka kemudian tempat tersebut berkembang menjadi kota. Misalnya Palembang, di mana pusat kegiatannya berada di pingguran sungai Musi, karena sungai itu merupakan pelabuhan dan pusat perdagangan sejak dahului kala.demikian juga kota Jogyakarta, yang berintikan pemerintahan sultan , sehingga kota itu berubah menjadi pusat keratin. Kota Semarang yang letaknya di pinggir pantai, maka pusat pelabuhan menjadi titik nadi perkembangan kota itu.
Kalau kita perhatikan lingkungan-lingkungan tempat tinggal penduduk di kota di Indonesia umumnya dekat dengan pusat kota. Misalnya kota Medan, terlihat lingkungan Polonia, Kampung Durian, Kota Matsum ,Kota Keling. Jika khusus lingkungan elite , maka Polonia merupakan pusat kota.
Umumnya daerah kaum elite jumlahnya lebih sedikit dengan lingkungan kaum menengah apalagi kelas miskin.
Karena sifat mobility masyarakat itu selalu bergerak, maka kelihatan pergeseran wilayah tempat tinggal di perkotaan. Maka di daerah perkotaan muncullah daerah-daerah yang berstatus golongan menengah, misalnya untuk kota Medan berada di wilayah Medan Baru.
DAFTAR PUSTAKA
Menno,S. Alwi,Mustamin. 1994. Antropologi Perkotaan, Raja Grafindo Persada. Jakarta.
BAS.2008.Kapita Selekta ( Teori-teori Sosiologi Antropologi dan Sejarah Sosiologi.BMP.Medan.
(Fenomena pergeseran sikap tinggal penduduk kota di Indonesia)
A. Kota dan pengertiannya
Schroorl ( dengan mengutip lopez) , dalam modernisasi 1981 mengatakan bahwa arti kota yang pertama adalah yang terdapat dalam sisitem hiroglif ( goresan suci, yakni tulisan perlambang yang terdapat pada piramida) Mesir kuno. Dalam sistem ini “ KOTA” di gambarkan sebagai lingkaran dengan mempunyai palang bergaris ganda didalamnya. Tanda atau symbol ini di kenal dengan sebutan “NIUT” sebagai persimpangan jalan, atau pertemuan pendapat. Lingkarannya di artikan serbagai tembok atau pagar bentengnya, dan ini di madsudkan sesuatu yang kompak dan tertutup.
Tetapi pengertian kota belum mendapat defenisi yang pasti, hal ini di sebabkan banyaknya para ahli yang memberikan pemikirannya tentang kota.di bawah ini adalah defenisi kota :
• Louis Wirth kota adalah a relatively large, dense and permanent settlement of socially heterogenous individuals. “ kota adalah wilayah yang relatif luas, penduduk padat, dengan tempat tinggal yang menetap dan terdiri dari berbagai individu.
• N. Daeljoeni kota adalah suatu permukiman dengan kepadatan penduduk yang lebih besardaripada kepadatan wilayah nasional, dengan stuktur mata pencaharian non agraris dan tata guna tanah yang beraneka ragam serta dengan pergedungan yang berdirinya berletakan.
• Dari segi fisik kota adalah suatu permukiman yang mempunyai bangunan-bangunan perumahan yang berjarak relatif rapat dan mempunyai sarana-sarana dan prasarana- prasarana serta fsilitas-fasilitas yang relatif memadai guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup penduduknya. Yang utama dari sini adalah gedung-gedung dan bangunan-bangunan yang letaknya saling berdekatan dan memiliki sarana dan prasarana umum seperti jalanan, air dan penerangan, sarana ibadah, pemerintahan, rekreasi dan olahraga, ekonomi, komunikasi, serta lembaga-lembaga yang mengatur kehidupan bersama penduduknya.
• Dari segi jumlah penduduknya, menurut The United States Bureau of the Cencus menentukan jumlah 2500 jiwa, PBB mengajukan angka 200.000 jiwa, Kingsley Davis mengatakan 100.000 jiwa.
Menurut Drs. J.H.De Goode ciri-ciri wilayah di katak sebagai kota adalah :
1. Peranan besar di pegang oleh sector sekunder ( industry) dan tersier ( jasa) dalam kehidupan ekonomi.
2. Jumlah penduduk yang relatif besar.
3. Heterogenitas (keanekaragaman) susunan penduduknya.
4. Kepadatan penduduk yang relatif besar.
Gino Germani mengemukakan bahwa arti kota ( urban) dapat di tinjau dari 2 sudut, yaitu :
Sudut Demografis.
Sudut Sosiologis.
Dari sudut Demografis, kota dapat diartikan sebagai suatu pengelompokan orang-orang atau penduduk ke dalam suatu ukuran tertentu , dan dalam suatu wilayah tertentu.
Dari sudut Sosiologis, kota haruslah mencakup stuktur sosial dan pola-pola psikologis dan prilaku dengan mempostulatkan bahwa masyarakat kota adalah berbeda dari masyarakat desa.
Dalam literature Anglo-Amerika, terdapat 2 istilah yang memaksudkan “kota”, yakni “ town” dan “city”. Town diartikan sebagai bentuk tengah diantara kota dan desa. Penduduk Town masih saling mengenal dengan akrab.perilaku sosial dalam Town lebih mirip dengan pedesaan bil di bandingkan dengan pola prilaku di kota besar ( city) atau metropolitan. Mengenai jumlah penduduk , tidak terdapat suatu kesepakatan.
Kota kota di Indonesia dapat di lihat dan di kenali menurut statusnya dan stuktur ketatanegaraannya dan pemerintahannya (administrasinya). Kita dapat menjumpai kota-kota kecilnya yang pada umumnya adalahibukota kabuopaten dan ibukota kecamatan. Sitingkat lebih tinggi ialah kotamadya ( kotapraja) yang sejajar dengan daerah otonom tingkat II. Kotamadya atau kotapraja ini berstatus otonom karena di beri hak untuk mengatur dan mengurus rumahtangganya sendiri melalui sumber-sumber penghasilan yang terdapat di dalamnya. Sebahagian kotamadya ada juga yang berkebubukan sebagai ibukota pruvinsi, tetapi ada pula yang tidak. Misalnya kota Bogor ( Jawa Barat) dan Pare-Pare ( Sulawesi selatan). Tingkat kota yang lebih toinggi ialah kota metropolitan Jakarta., yang berstatus sebagai daerah otonom tingkat I ( Provinsi), dan sekaligus yang berkedudukan sebagai ibukota negara Indonesia. Dari segi perkembangannya, ada beberapa kota di Indonesia cenderung untuk menjadi sangat besar dan menjadi metropolitan. Misalnya kota Surabaya, Medan, Ujung Pandang.
Dari sudut karakter, perkembangan dan prtumbuhan kota-kota yang semakin besar, telah menunjukan adanya berbagai karakter pada kota-kota ini.Schrool , dalam hubungan ini mengambarkan suatu jenis kota yang di sebutnya “ kota primat”, yakni kota yang sangat besar, yang cenderung memperlihatkan watak parasitisme terhadap masyarakat nasional, dan berusaha menarik bagian-bagian modal yang relatif besar sehingga dapat menjadi hambatan bagi daerah-daerah pedesaan maupun kota-kota yang lebih kecil. Gejala ini kita temukan pada kota-kota di Jakarta. Pembangunan berbagai sarana dan prasarana ( jalan tol dan gedung bertingkat, gedung-gedung, tempat-tempat rekreasi dan olahraga) hal ini terjadi karena kedudukan kota Jakarta yang ganda . yakni sebagai ibukota negara dan sebagai pusat perdagangan dan niaga serta industry.
Menurut Lewis Mumford, ada 6 jenis kota di lihat dari tahap perkembangannya. Yaitu :
1. Eopolis kota yang merupakan suatu pusat dari daerah-daerah pertanian dan yang mempunyai adat-istiadat yang bercorak kedesaan dan sederhana.
2. Polis kota yang merupakan tempat berpusatnyakehidupan keagamaan dan pemerintahan. Bentuknya adalah bagaikan benteng yang kokoh yang di dalamnya terdapat tempat-tempat ibadah, pasar, dan industry-industri kecil ( gilda), lembaga pendidikan, tempat-tempat hiburan dan olahraga.
3. Metropolis kota yang di cirikan oleh wilayahnya yang kurang luas dan penduduknya yang banyak, terdiri dari orang-orang dari berbagai bangsa untuk berdagang dan tukar-menukar kekayaan budaya rohani. Juga terdapat percampuran perkawinan antar bangsa dan ras sehingga memunculkan filsafat dan kepercayaan baru. Secara fisik, perkembangan menjadi metropolis menunjikan sifat kemegahan, tetapi dari segi sosial memperlihatkan adanya kekontrasan antara golongan kaya dan golongan miskin.
4. Megalopolis kota yang merupakan lanjutan tingkat perkembangan dari kota metropolis. Pada tahap ini, gejala sosio-patologis sangat menonjol, di satu pihak terdapat kekuasaan dan kekayaan yang didukung oleh birokrasi yang ketat, tetapi di lain pihak terdapat kemiskinan dan keresahan yang semakin meluas dalam masyarakat, sehingga mendorong terjadinya pemberontakan kaum proletar.
5. Tiranopolis kota yang mencapai tingkat perkembangan demikian bi tandai dengan terjadinya degenerasi, merosotnra moral penduduk, adanya kejahatan dan kemaksiatan, dan timbulnya kekuatan politik baru dari kaum proletariat yang sewaktu-waktu akan melanda kota dengan pemberontakan.
6. Nekropolis kota yang telah mengalami kehancuran menjadi rangka (nekros= bangkai). Peradabannya runtuh dan kota menjadi puing-puing reruntuhan. Contoh kota yang berda dalam tahap ini adalah Babylon, Ninive, dan Romawi Kuno.
7. Gideon Sjorberg ( dalam Schrool), membahas kota-kota yang di bentuk sebelum revolusi industry, oleh Sjorberg, dinpandang sebagai suatu masyarakat tersendiri. Kota-kota ini mempunyai stuktur yang sangat mirip antara yang satu dengan lainnya. Terlepas dari pengaruh kebudayaan tempat kota itu berada, dan juga terlepas dari pengaruh zaman. Karena itu, kota-kota demikian berbeda secara fundamental dari kota-kota industry.
Kota-kota praindustri yang merupakan pusat masyarakat yang sudah kompleks, di sebut juga sebagai peradaban kuno, karena masihterikat dengan masyarakat pedesaan.perbedaan dengan desa ialah dalam hal bahwa kehidupan kota praindustri sudah mengalami pembesaran skala dan diferensiasi, pembagian kerja dan spesialis, sedangkan kegiatan yang dominan adalah non-agraris..
Hal lain yang menonjol dari kehidupan masyarakat kota industry adalah di kotomi dalam stuktur sosialnya, yakni dengan adanya lapisan atas dan lapisan bawah dalam stratifikasi sosialnya. Yang di sebut sebagai “ klas sosial”. Perilaku sosial sangat di tentukan oleh keanggotaan dalam klas sosial tertentu. Mobilitas sosial sangat rendah. Klas atas mempunyai pengaruh yang besar dalam masyarakat lokal dan masyarakat desa-desa sekitarnya. Klas atas menempati kedudukann-kedudukan yang tinggi dalan susunan birokrasi pemerintahan, militer dan agama. Klas bawah hanya menduduki jabatan-jabatan rendahan, pedagang, tukang dan prajurit. Dalam masyarakat ini juga telah terdapat pria-pria yang melakukan pekerjaan dan kegiatan yang di pandang kotor dan najis secara moral.
Perbedaan-perbedaan klas ini selanjutnya tampak dalam cara-cara berprilaku, berbicara, berpakaian dan masing-masing klas mengawasi para anggotanya dalam hal yang demikian. Perbedaan itu juga tampak pada permukiman dan perkampungan di kota. Pusat kota merupakan tempat para kaum elite, di mana terdapat pula gedung-gedung pemerintahan dan pusat-pusat agama. Klas bawah bertempat tinggal di sekitar pusat kota itu.
Kegiatan rumah tangga dan kegiatan mata pencaharian sudah terpisah. Klas atas memiliki kecenderungan yang kuatvuntujk mempertahankan posisi-posisi yang menguntungkan , baik bagi diri mereka sendiri maupun untuk anak cucu mereka. Sehingga timbullah penonjolan-penonjolan perbedaan itu dengan jalan menciptakan symbol-simbol dan tanda-tanda yang membedakan antara klas yang satu dengan klas yang lain. Hal ini selanjutnya yang mendorong di gunakannya ikatan kekerabtan dan kekeluargaan untuk menerima dan menyalurkan calon-calon untuk menduduki posisi-posisi yang menguntungkan. Karena itu kelompok kerabat masih mempunyai fungsi yang penting.
Dalam kota praindustri telah terdapat perbedaab dan spesialisasi dalam pembagian kerja. Spesialisasi dalam bidang pertukangan . misalnya terorganisir dalam bentuk “gilda-glda”. Organisasi gilda ini mengatur pemberian latihan kepada para anggotanya yang sering terdiri dari mereka yang mempunyai hubungan keluarga dan kerabat dengan pemimpin gilda. Gilda ini juga mengawasi kualitas dan harga barang-barang yang di produksi mereka. Karena itu, kedudukan gilda adalah kuat dalam menghadapi persaingan dari luar, sehingga anggota-anggotanya terlindung.
Tingkat spesialisasi dalam masyarakat praindustri memang masih jauh berbeda dari masyarakat industry . semua pekerjaan untuk menghasilkan barang masih di kerjakan sendiri oleh produsen. Pekerjaan itu di lakukan dengan cara manual (tangan) dan di bantu dengan alat-alat yang sederhana.produksi di tunjukan pada pasar yang kecil, pembaharuan-pembaharuan sangat lamban spesialisasi pertukangan hanya berdasarkan keahlian, bukan berdasarkan alat atau proses dan hampir semua kegiatan produksi menggunakan tenaga manusia dan hewan.
Diferensiasi masyarakat juga jelas tampak pada birokrasi pemerintahan. Pemimpin mempunyai kedudukan yang penting dalam urusan pengambilan keputusan . kurang di dasarkan pada peraturan-peraturan yang berlaku. Hubungan antara petugas-petugas dengan mereka yang di layani lebih banyak bersifat partikularistik daripada universalistic, termasuk dalam hal penerimaan pegawai. Oleh karena itu hubungan kekerabatan, kekeluargaan , hubungan kebangsaan dan klas memegang peranan yang penting dan dominan. Kecakapan, keahlian dan kepintaran menjadi prioritas kedua. Posisi sosial dan kekuasaan golongan elite di pertanggungjawabkan berdasarkan tradisi dan pandangan keagamaan.
Organisasi keagamaan mempunyai peran yang sangat penting dan dominan. Karena itu kaum elite agama mempunyai hebungan yang erat dengan kaum elite politik. Yang menjadi dasar kekuasaan agama adalah nilai agama yang menjadi faktor pemersatu masyarakat. Dalam masyarakt ini orde moral masih memainkan peranan yang penting, dan agama termasuk dalam bagiannya yang pokok.. dalam sistem keagamaan, keselurahan kepercayaan tercermin dalam pembedaan tradisi besar dan tradisi kecil, karena pengetahuan merupakan dasar kekuatan mereka atas masyarakat yang buta huruf.
Pandangan dan nilai agama mempengaruhi tingkah laku orang-orang kota praindustri. Upacara-upacara keagamaan merupakan mekanisme yang menunjang integritas masyarakat kota yang terpilah-pilah dan terkotak-kotak. Praktek religiomagik, yang di anggap mempunyai kekuatan untuk member perlindungan, memulihkan keadaan, atau dapat di gunakan untuk meramal. Waqlau begitu , kaum elite ini juga masih mengantungkan hidup mereka kepada lingkungan alam dan lingkungan sosial mereka.
Cara lain untuk mengartikan kota ini adalah dengan mengutip peryataan Hoselitz, beliau mengatakan bahwa kita harus membedakan 2 jenis kota, yakni kota sebagai pusat politik intelektual dan kota sebagai pusat ekonomi. Kota dengan pusat intelektual contohnya kota New Delhi ( India), Kota Quito, dan Peipeng. Sementara kota-kota sebagai pusat ekonomi contohnya Bombay, Guyanaquil, dan Shanghai. Sedangkan kota dengan dominasi politik contohnya Wasingthon D.C dan New Delhi.
Berdasarkan pembagian kota oleh Hoselitz tadi, maka Redfied dan Singer membagi kota sebagai berikut :
1. Kota budaya –administrasi ( kota sastra dan kota birokrasi pribumi). Contoh : Peipeng, Lhasa, Uaxactum, Kyoto,Liege, dan Allahabad.
2. Kota niaga pribumi ( Kota pengusaha. Contohnya : Kota Bruges, Marseilles, Lubeck).
3. Kota Metropolis dengan klas manajerial berskala dunia dan pengusaha. Contoh : London, hanghai, Singapura, dan Bombay. Dan kota-kota ini berkembang dengan pesat sesudah terjadinya oikumene unuiversal ( cities of the main street of the world).
4. Kota-kota administrasi yang modern ( Kota-kota dengan birokrasi baru). Contoh : Wasingthon D.C, New Delhi dan Canberra.
B. PERGESERAN SIKAP TINGGAL PENDUDUK KOTA DI INDONESIA
Pada umumnya golongan elite, mereka cenderung menjauhi pusat kota dan leboih ingin bertempat tinggal di pinggiran kota dan sub-urban region.pada umumnya kota-kota di Indonesia berkenbang secara sektoral. Artinya karena adanya pusat-pusat kegiatan di suatu tempat maka kemudian tempat tersebut berkembang menjadi kota. Misalnya Palembang, di mana pusat kegiatannya berada di pingguran sungai Musi, karena sungai itu merupakan pelabuhan dan pusat perdagangan sejak dahului kala.demikian juga kota Jogyakarta, yang berintikan pemerintahan sultan , sehingga kota itu berubah menjadi pusat keratin. Kota Semarang yang letaknya di pinggir pantai, maka pusat pelabuhan menjadi titik nadi perkembangan kota itu.
Kalau kita perhatikan lingkungan-lingkungan tempat tinggal penduduk di kota di Indonesia umumnya dekat dengan pusat kota. Misalnya kota Medan, terlihat lingkungan Polonia, Kampung Durian, Kota Matsum ,Kota Keling. Jika khusus lingkungan elite , maka Polonia merupakan pusat kota.
Umumnya daerah kaum elite jumlahnya lebih sedikit dengan lingkungan kaum menengah apalagi kelas miskin.
Karena sifat mobility masyarakat itu selalu bergerak, maka kelihatan pergeseran wilayah tempat tinggal di perkotaan. Maka di daerah perkotaan muncullah daerah-daerah yang berstatus golongan menengah, misalnya untuk kota Medan berada di wilayah Medan Baru.
DAFTAR PUSTAKA
Menno,S. Alwi,Mustamin. 1994. Antropologi Perkotaan, Raja Grafindo Persada. Jakarta.
BAS.2008.Kapita Selekta ( Teori-teori Sosiologi Antropologi dan Sejarah Sosiologi.BMP.Medan.
PENGARUH NILAI BUDAYA TERHADAP PRIBADI ANAK
( Pandangan Hidup Pada Masyarakat Melayu Tradisional )
FERNANDES SINAGA 1
309122020
PRODI ANTROPOLOGI SOSIAL
Suku bangsa melayu merupakan suku bangsa yang sebahagian besar mendiami daerah asia tenggara . kedatangan suku bangsa melayu ke bumi nusantara ini di awali dengan gelombang pertama atau di sebut melayu tua (deutro melayu) dan gelombang kedua atau di sebut melayu muda (proto melayu). Suku bangsa ini pada umumnya banyak mendiami daerah di semenanjung malaka dan sekitar pesisir sumatera timur ( Kabupaten Asahan dan Kabupaten Batubara) dan sebagian besar menganut agama islam.2
Dalam kehidupan sosial masyarakat melayu masih berorientasi kepada nilai nilai budaya yang bersifat tradisional. Dalam kehidupannya masyarakat melayu masih berpegang kepada adapt istiadat dan keagamaan.
Kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang meliputi cara cara berprilaku, kepercayaan kepercayaan dan sikap sikap, dan juga hasil dari suatu kegiatan manusia yang sifatnya khas untuk suatu masyarakat tertentu. Kebudayaan merupakan hasil proses dari sebuah pembelajaran.
kebudayaan itu mempunyai 4 wujud yaitu wujud fisik (artefak), wujud tindakan, wujud gagasan / ide/ idil, dan wujud gagasan yang ideologis. 3
Sistem gagasan, pandangan hidup dan ideologi adalah nilai budaya yang dianggap penting dan berharga bagi warga suatu masyarakat. Sistem gagasan, pandangan hidup dan ideology ini mempunyai arti bahwa ketiga unsur ini merupakan pedoman dalam setiap aspek dan kegiatan yang di lakukan oleh masyarakat itu sendiri
Manusia adalah mahluk sosial yang membutuhkan interaksi dan membutuhkan kelompok lain dalam mempertahankan kehidupannya . dalam setiap kelompok setiap individu harus dapat menyesuaikan diri dengan semua peraturan dan norma norma kelompok lain. 4
Bilamana manusia terlahir maka adat dan lingkungan akan menentukan pengalaman dan perilakunya. Dengan begitu ketika dia beranjak dewasa , adat kebiasaan, kepercayaan dan larangan larangan lingkungannya merupakan adat ,kebiasaan, kepercayaan dan larangan yang harus di pegang pula.
Masyarakat melayu pesisir sumatera timur merupakan masyarakat yang hidup di tepi pantai dan hidup dalam adat dan agama. Hal ini juga akan berfungsi sebagai pemberi arah dan pendorong kelakuan manusia.hal ini juga yang menyebabkan masyarakat melayu selalu mengutamakan nilai sosial dan sosialisasi di kalangan anak anak mereka karena mereka berasumsi bahwa anak merupakan penerus generasi.
Mulai lahir lingkungan sosial bayi pada masyarakat melayu sudah di arahkan kepada hal hal yang bersifat baik.begitu bayi lahir maka orang pertama yang harus menerimanya dari tangan si bidan adalah orang yang mempunyai nilai nilai keagamaan yang baik ,berpengetahuan dan berbudi luhur. Hal ini di dasarkan pada kepercayaan masyarakat melayu, jika orang pertama yang menerima bayi tersebut adalah orang baik dan berpengetahuan maka anak itu juga akan bersikap baik dan berpengetahuan. sebagai tanda melayu itu islam maka jika anak laki laki terlahir maka bayi itu akan di kumandangkan suara azan di telinganya dan bila yang terlahir anak perempuan maka di telinganya di perdengarkan iqamat. Pada waktu memperdengarkan azan dan iqamat harus menghadap kiblat. Maknanya, jika suara azan dan iqamat ini di perdengarkan maka yang pertama kali yang di dengar oleh oleh bayi sebagai mahluk allah adalah tentang adanya TUHAN YANG MAHA ESA, agar ia kelak selalu taat dan patuh terhadapNYA.
Sebagai pedoman hidup orang melayu mempunyai beberapa pantangan dan pegangan hidup antara lain :
1. Pantang makan dari periuk, karena harusnya makan itu harus tertib, nasi di letakan di atas piring dan duduk di tempat tertentu.
2. pantang menyebut nama ayah dan ilmu sebagai tanda menghormati orang tua supaya nama mereka tidak menjadi bahan ejekan.
3. pantang makan nasi tidak habis (bersisa), nanti telur ayam tak menjadi. Hal ini mendidik anak agar jangan rakus mata dan hidup dengan hemat.
4. pantang makan tak bertambah, karena di katakan bias menjauhkan rezeki, sebenarnya adaklah untuk menghargai orang yang memasak makanan dan menghargai jerih payah orang lain.
5. masih banyak pantangan di kalangan masyarakat melayu yang tujuannya untuk pedoman hidup.
Di samping itu masyarakat melayu juga mempunyai peribahasa dan pepatah yang yang mengajar manusia untuk saling menghargai dan juga pedoman hidup. Seperti :
1. berbuat baik berpada pada, berbuat jahat jangan sekali (jangan jahat dan usahakan berbuat baik)
2. macam tapai mengairi dirinya. ( siapa salah akhirnya terhukum juga).
3. laut mana yang tak berombak, bumi mana yang tak di timpa hujan ( manusia mana yang tak pernah silap)
4. laut yang di timba juga akan kering ( harta yang banyak sekalipun akan habis, kalauy terus menerus di boroskan juga).
5. adapt pasaang trurun naik. ( tiada yang kekal di dunia ini, ada waktu senang dan ada waktu susah).
Walaupun system kekerabatan melayu bersifat bilateral tetapi dalam kepemimpunan keluarga mereka menyelaraskan dengan ajaran agama islam.
Masyarakat melayu juga mengakui bahwa antara laki laki dan perempuan memang mempunyai derajat dantidak mengenal bahwa antara perempuan dan wanita mempunyai perbedaan hak.. jika anak lelaki sudah bisa mencari nafkah maka si anak akan membantu orang tuanya dalam mencari nafkah sama halnya sebagai nelayan. Anak perempuan juga akan membantu orang tuanya mengerjakan pekerjaan rumah.
Istilah kekerabatan melayu juga mengajarkan untuk menghormati orang tua dan yang muda di hormati. Sangat janggal sekali jika seorang adik memanggil abangnya hanya dengan nama saja.walaupun usianya hanya beberapa bulan saja.dalam skehidupan sehari hari masyarakat melayu mempunyai sifat yang lemah lembut dan bertimbang rasa baik, dalam hubungannya terhadap sesama dan orang lain. Menurut mereka sikap yang demikian akan menumbuhkan rasa kasih, saling menyengani , sopan santun dan pemalu. Pada masyarakat melayu rasa malu merupakan cerminan dari sebuah iman sebagaimana dalam ajaran agama mereka bahwa malu merupakan bagian dari iman.orang melayu juga tidak suka menonjolkan diri dan harus beradat sesuai dengan dengan ajaran yang berlaku dalam masyarakat. Hal inilah yang menjadi pegangan dasar dan pedoman hidup bagi masyarakat melayu yang pada umumnya masih bersifat tradisional. 5
Nilai budaya dapat kita gunakan dalam proses sosialisasi dan pemahaman norma norma terhadap anak.dewasa ini nilai budaya itu sudah mulai luntur dan nyaris hilang. Hal ini menyebabkan para generasi muda dan anak anak Indonesia sedang mengalami “krisis moral”, “krisis mental”, krisis sopan”, dan bahkan tidak memiliki pri kebudayaan yang secara aslinya dapat memberika manfaat yang sangat baik bagi perkembangan mental, moral, serta akhlak. Dan masyarakat melayu yang tadinya bersifat tradisional tetapi dengan nilai budaya mereka dapat membangun diri dan akhlak mereka dengan nilai budayanya tersebut. Semoga hal ini bias menjadi pandangan yang positif bagi semua kalangan dalam memberikan sosialisasi dan pedoman hidup bagi anak anak Indonesia sebagai generasi yang tidak akan melupakan nilai budaya daerahnya.
footnote
1. adalah mahasiswa semester 2 prodi antropologi Universitas Negeri Medan.
2. BAS. Melayu Pesisir dan Batak Pengunungan ,Orientasi Nilai Budaya ( Jakarta :Yayasan Obor Indonesia. 2010). Hal. 9
3. Koentjaraningrat. Pengantar Antropologi (Jakarta : Rineka Cipta. 2005). Hal. 74
4. T.O. Ihromi. Pokok-Pokok Antropologi Budaya (Jakarta : YOI. 2006). Hal 18
( Pandangan Hidup Pada Masyarakat Melayu Tradisional )
FERNANDES SINAGA 1
309122020
PRODI ANTROPOLOGI SOSIAL
Suku bangsa melayu merupakan suku bangsa yang sebahagian besar mendiami daerah asia tenggara . kedatangan suku bangsa melayu ke bumi nusantara ini di awali dengan gelombang pertama atau di sebut melayu tua (deutro melayu) dan gelombang kedua atau di sebut melayu muda (proto melayu). Suku bangsa ini pada umumnya banyak mendiami daerah di semenanjung malaka dan sekitar pesisir sumatera timur ( Kabupaten Asahan dan Kabupaten Batubara) dan sebagian besar menganut agama islam.2
Dalam kehidupan sosial masyarakat melayu masih berorientasi kepada nilai nilai budaya yang bersifat tradisional. Dalam kehidupannya masyarakat melayu masih berpegang kepada adapt istiadat dan keagamaan.
Kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang meliputi cara cara berprilaku, kepercayaan kepercayaan dan sikap sikap, dan juga hasil dari suatu kegiatan manusia yang sifatnya khas untuk suatu masyarakat tertentu. Kebudayaan merupakan hasil proses dari sebuah pembelajaran.
kebudayaan itu mempunyai 4 wujud yaitu wujud fisik (artefak), wujud tindakan, wujud gagasan / ide/ idil, dan wujud gagasan yang ideologis. 3
Sistem gagasan, pandangan hidup dan ideologi adalah nilai budaya yang dianggap penting dan berharga bagi warga suatu masyarakat. Sistem gagasan, pandangan hidup dan ideology ini mempunyai arti bahwa ketiga unsur ini merupakan pedoman dalam setiap aspek dan kegiatan yang di lakukan oleh masyarakat itu sendiri
Manusia adalah mahluk sosial yang membutuhkan interaksi dan membutuhkan kelompok lain dalam mempertahankan kehidupannya . dalam setiap kelompok setiap individu harus dapat menyesuaikan diri dengan semua peraturan dan norma norma kelompok lain. 4
Bilamana manusia terlahir maka adat dan lingkungan akan menentukan pengalaman dan perilakunya. Dengan begitu ketika dia beranjak dewasa , adat kebiasaan, kepercayaan dan larangan larangan lingkungannya merupakan adat ,kebiasaan, kepercayaan dan larangan yang harus di pegang pula.
Masyarakat melayu pesisir sumatera timur merupakan masyarakat yang hidup di tepi pantai dan hidup dalam adat dan agama. Hal ini juga akan berfungsi sebagai pemberi arah dan pendorong kelakuan manusia.hal ini juga yang menyebabkan masyarakat melayu selalu mengutamakan nilai sosial dan sosialisasi di kalangan anak anak mereka karena mereka berasumsi bahwa anak merupakan penerus generasi.
Mulai lahir lingkungan sosial bayi pada masyarakat melayu sudah di arahkan kepada hal hal yang bersifat baik.begitu bayi lahir maka orang pertama yang harus menerimanya dari tangan si bidan adalah orang yang mempunyai nilai nilai keagamaan yang baik ,berpengetahuan dan berbudi luhur. Hal ini di dasarkan pada kepercayaan masyarakat melayu, jika orang pertama yang menerima bayi tersebut adalah orang baik dan berpengetahuan maka anak itu juga akan bersikap baik dan berpengetahuan. sebagai tanda melayu itu islam maka jika anak laki laki terlahir maka bayi itu akan di kumandangkan suara azan di telinganya dan bila yang terlahir anak perempuan maka di telinganya di perdengarkan iqamat. Pada waktu memperdengarkan azan dan iqamat harus menghadap kiblat. Maknanya, jika suara azan dan iqamat ini di perdengarkan maka yang pertama kali yang di dengar oleh oleh bayi sebagai mahluk allah adalah tentang adanya TUHAN YANG MAHA ESA, agar ia kelak selalu taat dan patuh terhadapNYA.
Sebagai pedoman hidup orang melayu mempunyai beberapa pantangan dan pegangan hidup antara lain :
1. Pantang makan dari periuk, karena harusnya makan itu harus tertib, nasi di letakan di atas piring dan duduk di tempat tertentu.
2. pantang menyebut nama ayah dan ilmu sebagai tanda menghormati orang tua supaya nama mereka tidak menjadi bahan ejekan.
3. pantang makan nasi tidak habis (bersisa), nanti telur ayam tak menjadi. Hal ini mendidik anak agar jangan rakus mata dan hidup dengan hemat.
4. pantang makan tak bertambah, karena di katakan bias menjauhkan rezeki, sebenarnya adaklah untuk menghargai orang yang memasak makanan dan menghargai jerih payah orang lain.
5. masih banyak pantangan di kalangan masyarakat melayu yang tujuannya untuk pedoman hidup.
Di samping itu masyarakat melayu juga mempunyai peribahasa dan pepatah yang yang mengajar manusia untuk saling menghargai dan juga pedoman hidup. Seperti :
1. berbuat baik berpada pada, berbuat jahat jangan sekali (jangan jahat dan usahakan berbuat baik)
2. macam tapai mengairi dirinya. ( siapa salah akhirnya terhukum juga).
3. laut mana yang tak berombak, bumi mana yang tak di timpa hujan ( manusia mana yang tak pernah silap)
4. laut yang di timba juga akan kering ( harta yang banyak sekalipun akan habis, kalauy terus menerus di boroskan juga).
5. adapt pasaang trurun naik. ( tiada yang kekal di dunia ini, ada waktu senang dan ada waktu susah).
Walaupun system kekerabatan melayu bersifat bilateral tetapi dalam kepemimpunan keluarga mereka menyelaraskan dengan ajaran agama islam.
Masyarakat melayu juga mengakui bahwa antara laki laki dan perempuan memang mempunyai derajat dantidak mengenal bahwa antara perempuan dan wanita mempunyai perbedaan hak.. jika anak lelaki sudah bisa mencari nafkah maka si anak akan membantu orang tuanya dalam mencari nafkah sama halnya sebagai nelayan. Anak perempuan juga akan membantu orang tuanya mengerjakan pekerjaan rumah.
Istilah kekerabatan melayu juga mengajarkan untuk menghormati orang tua dan yang muda di hormati. Sangat janggal sekali jika seorang adik memanggil abangnya hanya dengan nama saja.walaupun usianya hanya beberapa bulan saja.dalam skehidupan sehari hari masyarakat melayu mempunyai sifat yang lemah lembut dan bertimbang rasa baik, dalam hubungannya terhadap sesama dan orang lain. Menurut mereka sikap yang demikian akan menumbuhkan rasa kasih, saling menyengani , sopan santun dan pemalu. Pada masyarakat melayu rasa malu merupakan cerminan dari sebuah iman sebagaimana dalam ajaran agama mereka bahwa malu merupakan bagian dari iman.orang melayu juga tidak suka menonjolkan diri dan harus beradat sesuai dengan dengan ajaran yang berlaku dalam masyarakat. Hal inilah yang menjadi pegangan dasar dan pedoman hidup bagi masyarakat melayu yang pada umumnya masih bersifat tradisional. 5
Nilai budaya dapat kita gunakan dalam proses sosialisasi dan pemahaman norma norma terhadap anak.dewasa ini nilai budaya itu sudah mulai luntur dan nyaris hilang. Hal ini menyebabkan para generasi muda dan anak anak Indonesia sedang mengalami “krisis moral”, “krisis mental”, krisis sopan”, dan bahkan tidak memiliki pri kebudayaan yang secara aslinya dapat memberika manfaat yang sangat baik bagi perkembangan mental, moral, serta akhlak. Dan masyarakat melayu yang tadinya bersifat tradisional tetapi dengan nilai budaya mereka dapat membangun diri dan akhlak mereka dengan nilai budayanya tersebut. Semoga hal ini bias menjadi pandangan yang positif bagi semua kalangan dalam memberikan sosialisasi dan pedoman hidup bagi anak anak Indonesia sebagai generasi yang tidak akan melupakan nilai budaya daerahnya.
footnote
1. adalah mahasiswa semester 2 prodi antropologi Universitas Negeri Medan.
2. BAS. Melayu Pesisir dan Batak Pengunungan ,Orientasi Nilai Budaya ( Jakarta :Yayasan Obor Indonesia. 2010). Hal. 9
3. Koentjaraningrat. Pengantar Antropologi (Jakarta : Rineka Cipta. 2005). Hal. 74
4. T.O. Ihromi. Pokok-Pokok Antropologi Budaya (Jakarta : YOI. 2006). Hal 18
FOLKLORE SI BORU PAREME DALAM MASYARAKAT BATAK
( SEBAGAL AWAL HAKEKAT HUBUNGAN SESAMA MANUSIA)
FERNANDES SINAGA
309122020
PEND. ANTROPOLOGI
Suku batak merupakan salah satu suku terbesar yang ada di Indonesia. Suku batak merupakan suku yang banyak mendiami daerah sumatera utara. Bertempat di sekitar pantai danau toba. Dalam sistem organisasi kemasyarakatan dan sisitem kekerabatannya, suku batak mempunyai hubungan yang sangat erat baik itu hubungan secara langsung ( horizontal) dan hubungan tidak langsung ( vertical). Kekerabatan yang sangat erat ini di tandai dengan adanya pemberian marga di belakang nama seseorang pada sebuah klan atau kelompok marga.masyarakat batak pada umumnya mengunakan sistem kekerabatan patrilineal ( pemberian marga di dasarkan ada garis keturunan/ marga dari pihak laki- laki / ayah).
Bukan hanya itu saja, kekerabatan yang erat di kalangan suku batak ini juga dapat di lihat dari falsafah dan pedoman hidup yang di gunakan antara sesama masyarakat. Suku batak mengenal falsafah DALIHAN NA TOLU (hula-hula/ pemberi isteri,boru dan dongan sabutuha /teman semarga). DALIHAN NA TOLU ini di jadikan sebagai dasar dalam menjalankan segala aktivitas kehidupan dalam sisitem sosial dan kekerabatan suku batak toba.
Mengapa DALIHAN NA TOLU ini di katakan sebagai asas dan falsafah dalam kehidupan sehari-hari dan dalam sistem kekerabatan suku batak toba?
Pada awalnya di kalangan masyarakat batak toba prinsip DALIHAN NA TOLU ini belum tertanam secara erat di dalam kehidupannya, dapat di katakan bahwa dahulu masyarakat batak toba hanya memelihara siitem kekerabatan marga. Dalam kelanjutannya marga ini hanya sebagai sistem kekerabatan saja, belum ada pembatasan antara seorang hula- hula, boru dan dongan sabutuha. Akibat tidak adanya batasan di antara 3 unsur DALIHAN NA TOLU ini maka terjadilah satu peristiwa yang di anggap sebagai awal lahirnya DALIHAN NA TOLU ini. Peristiwa itu adalah terjadinya krisis kekerabatan antara 3 unsur DALIHAN NA TOLU tersebut sebagai akibat tidak adanya batasan di antara ke 3 nya( terjadi pada zaman generasi ke -3 si raja batak). Perkawinan sumbang ( incest) antara siboru pareme dan saribu raja yang sebenarnya adalah perkawinan antara seorang anak dengan seorang ibu. Peristiwa ini mengakibatkan terjadinya perpecahan di pomparan ( kumpulan) tatea bulan. Untuk mengatasi peristiwa yang memalukan ini , maka mereka berinisiatif untuk melakukan pembatasan di antara ke-3 unsur tadi yaitu dengan membentuk DALIHAN NA TOLU.
keeratan sistem kekerabatan yang berasaskan DALIHAN NA TOLU ini tampak pada upacara –upacara adat masyarakat batak da didalam kehidupan sehari-hari
Pada upacara perkawinan tampak pada pemberian ulos (kain adat) oleh masing – masing kerabat kepada mempelai. Ulos itu berasal dari tulang/paman, amang boru dan dongan sabutuha. Fungsi ulos itu bukan hanya sebagai simbol adat dan aplikasi teori taken and give ( memberi dan menerima), tetapi pemberian ulos itu di maksudkan sebagai pengikat dan sebagai tanda bahwa di antara mereka terdapat suatu ikatan yang sangat erat.
Pada upacara kematian aplikasi DALIHAN NA TOLU ini tampak pada musyawarah di antara keturunan yang meninggal untuk menentukan hari penguburan. Orang batak di kenal sebagai bangsa yang sangat gemar nomaden dan merantau dan pada umumya orang batak berhasil di perantauan. Jika ada orang yang meninggal di kampung(orang tua, nenek. dsb), maka untuk melaksanakan pesta adat penguburannya, anak dan kerabat yang berada di perantauan tersebut harus dan wajib hadir. Walaupun sampai menunggu waktu yang lama dam memakan biaya yang banyak. Dan jika memang harus tidak dapat hadir maka di antara pihak kerabat di laksanakan musyawarah yang di sebut Mariah raja. Tujuannya adalah untuk membahas acara dan menentukan hari penguburan.
Kekerabatan ini tidak hanya di aplikasikan dalam setiap aktivitas yang berbau adat, tetapi juga dalam pemerintahan. Di dalam pemerintahan kekerabatan yang erat ini tampak jelas. Klan / marga siapa yang berkuasa /memegang suatu jabatan, maka anggota-anggota bawahannya sama dengan marga si pemegang kekuasaan. Bukan bertujuan nepotisme, tetapi dalam menentukan siapa yang pantas untuk bekerjasama dengan kita tentu kita harus mengetahui bobot dan siapa orang itu sebenarnya. Lagi pula di kalangan masyarakat batak sangat jarang di temukan orang – orang yang mau menghianati teman semarganya.
3 wilayah cakupan DALIHAN NA TOLU itu mungkin sudah cukup untuk menjelaskan bagaimana eratnya hubungan di antara masyarakat batak. Hubungan ini juga banyak di masukan dalam folklore yang berupa cerita rakyat. Pernyataan ini juga menunjukan bahwa di antara masyarakat batak hakekat hubungan dengan sesama manusia sangat erat.
( SEBAGAL AWAL HAKEKAT HUBUNGAN SESAMA MANUSIA)
FERNANDES SINAGA
309122020
PEND. ANTROPOLOGI
Suku batak merupakan salah satu suku terbesar yang ada di Indonesia. Suku batak merupakan suku yang banyak mendiami daerah sumatera utara. Bertempat di sekitar pantai danau toba. Dalam sistem organisasi kemasyarakatan dan sisitem kekerabatannya, suku batak mempunyai hubungan yang sangat erat baik itu hubungan secara langsung ( horizontal) dan hubungan tidak langsung ( vertical). Kekerabatan yang sangat erat ini di tandai dengan adanya pemberian marga di belakang nama seseorang pada sebuah klan atau kelompok marga.masyarakat batak pada umumnya mengunakan sistem kekerabatan patrilineal ( pemberian marga di dasarkan ada garis keturunan/ marga dari pihak laki- laki / ayah).
Bukan hanya itu saja, kekerabatan yang erat di kalangan suku batak ini juga dapat di lihat dari falsafah dan pedoman hidup yang di gunakan antara sesama masyarakat. Suku batak mengenal falsafah DALIHAN NA TOLU (hula-hula/ pemberi isteri,boru dan dongan sabutuha /teman semarga). DALIHAN NA TOLU ini di jadikan sebagai dasar dalam menjalankan segala aktivitas kehidupan dalam sisitem sosial dan kekerabatan suku batak toba.
Mengapa DALIHAN NA TOLU ini di katakan sebagai asas dan falsafah dalam kehidupan sehari-hari dan dalam sistem kekerabatan suku batak toba?
Pada awalnya di kalangan masyarakat batak toba prinsip DALIHAN NA TOLU ini belum tertanam secara erat di dalam kehidupannya, dapat di katakan bahwa dahulu masyarakat batak toba hanya memelihara siitem kekerabatan marga. Dalam kelanjutannya marga ini hanya sebagai sistem kekerabatan saja, belum ada pembatasan antara seorang hula- hula, boru dan dongan sabutuha. Akibat tidak adanya batasan di antara 3 unsur DALIHAN NA TOLU ini maka terjadilah satu peristiwa yang di anggap sebagai awal lahirnya DALIHAN NA TOLU ini. Peristiwa itu adalah terjadinya krisis kekerabatan antara 3 unsur DALIHAN NA TOLU tersebut sebagai akibat tidak adanya batasan di antara ke 3 nya( terjadi pada zaman generasi ke -3 si raja batak). Perkawinan sumbang ( incest) antara siboru pareme dan saribu raja yang sebenarnya adalah perkawinan antara seorang anak dengan seorang ibu. Peristiwa ini mengakibatkan terjadinya perpecahan di pomparan ( kumpulan) tatea bulan. Untuk mengatasi peristiwa yang memalukan ini , maka mereka berinisiatif untuk melakukan pembatasan di antara ke-3 unsur tadi yaitu dengan membentuk DALIHAN NA TOLU.
keeratan sistem kekerabatan yang berasaskan DALIHAN NA TOLU ini tampak pada upacara –upacara adat masyarakat batak da didalam kehidupan sehari-hari
Pada upacara perkawinan tampak pada pemberian ulos (kain adat) oleh masing – masing kerabat kepada mempelai. Ulos itu berasal dari tulang/paman, amang boru dan dongan sabutuha. Fungsi ulos itu bukan hanya sebagai simbol adat dan aplikasi teori taken and give ( memberi dan menerima), tetapi pemberian ulos itu di maksudkan sebagai pengikat dan sebagai tanda bahwa di antara mereka terdapat suatu ikatan yang sangat erat.
Pada upacara kematian aplikasi DALIHAN NA TOLU ini tampak pada musyawarah di antara keturunan yang meninggal untuk menentukan hari penguburan. Orang batak di kenal sebagai bangsa yang sangat gemar nomaden dan merantau dan pada umumya orang batak berhasil di perantauan. Jika ada orang yang meninggal di kampung(orang tua, nenek. dsb), maka untuk melaksanakan pesta adat penguburannya, anak dan kerabat yang berada di perantauan tersebut harus dan wajib hadir. Walaupun sampai menunggu waktu yang lama dam memakan biaya yang banyak. Dan jika memang harus tidak dapat hadir maka di antara pihak kerabat di laksanakan musyawarah yang di sebut Mariah raja. Tujuannya adalah untuk membahas acara dan menentukan hari penguburan.
Kekerabatan ini tidak hanya di aplikasikan dalam setiap aktivitas yang berbau adat, tetapi juga dalam pemerintahan. Di dalam pemerintahan kekerabatan yang erat ini tampak jelas. Klan / marga siapa yang berkuasa /memegang suatu jabatan, maka anggota-anggota bawahannya sama dengan marga si pemegang kekuasaan. Bukan bertujuan nepotisme, tetapi dalam menentukan siapa yang pantas untuk bekerjasama dengan kita tentu kita harus mengetahui bobot dan siapa orang itu sebenarnya. Lagi pula di kalangan masyarakat batak sangat jarang di temukan orang – orang yang mau menghianati teman semarganya.
3 wilayah cakupan DALIHAN NA TOLU itu mungkin sudah cukup untuk menjelaskan bagaimana eratnya hubungan di antara masyarakat batak. Hubungan ini juga banyak di masukan dalam folklore yang berupa cerita rakyat. Pernyataan ini juga menunjukan bahwa di antara masyarakat batak hakekat hubungan dengan sesama manusia sangat erat.
MARSIADAPARI ( mempertahankan warisan lokal suku batak toba)
PENGERTIAN GOTONG ROYONG
Gotong royong yang kita nilai tinggi merupakan satu konsep yang kita nilai tinggi. Yang merupakan satu konsep yang erat bersangkut paut dengan kehidupan rakyat kita sebagai petani dalam masyarakat agraris. . . . . .gotong royong merupakan sisitem pengetahuan tenaga tambahan dari luar kalangan keluarga untuk mengisi kekurangan tenaga dalam masa-masa sibuk dalam lingkaran aktivitas produksi bercocok tanam di sawah, untuk itu seorang petani meminta dengan sopan santun yang sudah tetap, beberapa orang lain sedesanya untuk membantunya. Semisalnya mempersiapkan sawah untuk masa penanaman yang baru ( memperbaiki saluran air dan pematang sawah, mencangkul, membajak, menggaru dan sebagainya. ( Koentjaranigrat)
JENIS- JENIS GOTONG ROYONG PADA MASYARAKAT BATAK
Pada awalnya istilah gotong royong dalam tradisi masyarakat toba ini bukan hanya di fokuskan pada pengerjaan sawah / ladang tetapi juga berbagai pekerjaan dalam kehidupan sehari-hari, pekerjaan bergotong royong ini dapat berupa :
A.Gotong royong dalam pesta pernikahan
B. Gotong royong dalam pembuatan jalan.
C. Gotong royong dalam acara duka cita ( mangaranggap)
D. gotong royong dalam berbagai acara lainnya.
Namun, dalam perkembangan selanjutnya istilah gotong royong ini hanya di fokuskan pada pengerjaan ladang / sawah. Hal ini di karenakan karena pada saat ini gotong pada acara acara seperti pesta untuk pengerjaannya ( memasak makanan, pembuatan teratak / tenda, dan lain lain) telah ada jasa yang menyediakaannya seperti catering ( jasa memasak).
1. MARSIADAPARI
Bulan Agustus – Sptember adalah masa panen di desa saya, setelah 6 bulan ( Januari – Juni ) masa tanam padi telah selesai. Kebiasaan waktu penulis masih SMA, bulan Agustus – September merupakan waktu yang sangat menyenangkan. Selain masa libur telah tiba , kami juga bisa bekerja dan mencari uang untuk tambahan uang jajan. Daripada bermain-main tanpa tujuan dan arah lebih baik kami mencari juma ( sawah ) untuk melakukan siadapari ( istilah orang di kampung penulis untuk menyatakan gotong royong)
Pada saat itu kebetulan penulis dan teman-teman dari sekolah yang berbeda ( STM GKPS, STM CINTA RAKYAT, STM GKPI dan penulis sendiri sekolah di SMEA HKBP) memang sedang libur. Kebiasaan para naposo di desa penulis jika sekolah libur maka para pemuda ( naposo) akan mambahas apa yang mau di kerjakan besok. Kebetulan untuk pekerjaan besok teman penulis mengajak untuk marsiadapari.
Marsiadapari merupakan pekerjaan yang sangat menyenangkan dan bukan pekerjaan yang membosankan walau satu hari penuh berjuang di dalam gambo ( lumpur) dan di panggang di bawah terik matahari). Di desa penulis sudah ada semacam aturan bahwa jika anak sekolah libur maka pekerjaan seperti mangombak ( membalikan tanah), manasapi ( membersihkan pematang sawah) , dan mambatangi (membentengi pematang sawah) adalah para pemuda ( naposo). Mungkin para orang tua beranggapan bahwa orang orang seperti inilah yang mempunyai semangat kerja dan cenderung burju ( tidak banyak akal).
Esok harinya setelah bangun pagi kami segera di kumpulkan oleh namboru pemilik sawah. Ternyata kami yang akan marsiadapari berjumlah 7 orang. ” adong do sakkul muna” ( adanya cangkul kalian?) tanya namboru pemilik sawah kepada kami, setelah melihat kami diam saja namboru pun berinisiatif untuk meminjam cangkul ke barendeng ( tetangga).
Kami ber 7 pun berangkat kesawah yang berjarak ± 2 KM . setelah sampai di sawah kami ber 7 pun mengambil kerja area masing- masing. Sawah yang kami kerjakan ada 12 batangi ( petak )
Marsiadapari yang akan kami kerjakan adalah manasapi dan mambatangi sabah ( sabah adalah istilah di desa penulis untuk menyebutkan areal pertanian yang memakai air sebagai indikator utama dalam pengelolahan sawah).
Dalam area sawah istilah batangi mengambarkan besarnya ( luas) dari sawah tersebut, di batangi ini terdapat juga galungan ( bagian bawah batangi). Sawah yang kami kerjakan mempunyai beberapa keunikan antara lain :
Pematang sawahnya panjang-panjang ( di sebut dengan istilah sawah kereta api), sempit. Sehingga tidak memungkinkan untuk di kerjakan dengan alat apa pun sekalipun dengan traktor kecuali dengan marsiadapari ini.
Semakin turun pematang ke bawah maka semakin rendah pematangnya dan luasnya bertambah.
Karena banyaknya sawah yang akan kami kerjakan maka dalam pengerjaan sawah tersebut kami memakai beberapa pertimbangan sebeluim marsiadapari yaitu :
Apakah kami mengerjakan dari bawah ke atas . Jika di kerkajakan dari bawah ke atas maka akan menimbulkan kebosanan dan kemalasan para anggota marsiadapari. Karena sawah yang di kerjakan ( bagian bawah) sempit dan kecil, jadi tidak akan puas jika yang di kerjakan yang keci dan sempit – sempit dahulu. Kemudian jika jadwal istirahat tiba maka akan kecapaian untuk naik ke atas ( sopo) .
Jika di kerjakan dari bagian tengah dahulu maka akan mengakibatkan kekacauan karena akan menyebabkan orang gurbak ulu ( bebal) kemudian jika di mulai dari tengah hasil yang di dapat akan kelihatan jelek.
Jika di lakukan dari atas ke bawah ( inilah cara yang sering di gunakan). Jika kita bekerja dari atas ke bawah maka sawah yang pertama selesai adalah sawah yang sempit-sempit. Hal ini akan menambah semangat para anggota untuk lebih memacu semangatnya untuk menyelesaikan pekerjaan.
Setelah mempertimbangkan hal di atas maka kami pun bekerja sesuai tugas dan area masing-masing. Penulis mendapat pekerjaan untuk manasapi. Sembari menancapkan cangkulnya ke lumpur, sesekali waja kami ber 7 pun berlepotan gambo ( lumpur ).
Setelah bekerja ± 3 jam maka kami pun beristirahat. Namboru pun datang sambil membawa sarapan berupa kue kering dan gorengan, tidak ketingaalan teh manis sebagai minuman kami. Setelah menghabiskan makanannya kamipun berteduh bembari meyulut rokok masing-masing. Setelah beristirahat kira-kira 15 menit kamipun kembali bekerja kembali.
Pada istirahat jam 12 kami pun makan siang. Sembari melihat pemilik sawah membawa bekal makan siang kami pun mencuci tangan dan badan kami yang kotor. ” ro ma hamu mangan, bissan las indahan ta on” ( mari lah kita makan, selagi hangat nasi kita ini). Menurut namboru makan dengan kondisi makanan yang hangat akan menhasilkan sensasi yang nikmat dan kesejukan. Kami pun makan dengan berbagai menu khas batak. Daging cincang beserta sambal khas batak , andaliman.
Setelah makan siang kami pun tidur sejenak sambil megumpulkan tenaga untuk pekerjaan selanjutnya.
Kami pun bekerja kembali, saat ini pekerjaan yang kami dapat kan telah menunjukan hasil 7 petak sawah telah selesai kami sasapi. Kami pun kembali istirahat sambil membahas rencana nanti malam. Kira kira jam 5 hari pun telah gelap, tetapi masih ada 2 petak sawah yang belum terselesaikan, kami bingung, pulang atau menyelesaikannya, kemudian datang namboru memecah kebingungan kami. ” mulak ma hamu, sogot ma hita karejoi muse” ( pulang sajalah kita , besok lagi kita kerjakan). Kami pun pulang dengan suasana hati yang girang. Sungguh menyenangkan marsiadapari, guman penulis dalam hati.
Gotong royong yang kita nilai tinggi merupakan satu konsep yang kita nilai tinggi. Yang merupakan satu konsep yang erat bersangkut paut dengan kehidupan rakyat kita sebagai petani dalam masyarakat agraris. . . . . .gotong royong merupakan sisitem pengetahuan tenaga tambahan dari luar kalangan keluarga untuk mengisi kekurangan tenaga dalam masa-masa sibuk dalam lingkaran aktivitas produksi bercocok tanam di sawah, untuk itu seorang petani meminta dengan sopan santun yang sudah tetap, beberapa orang lain sedesanya untuk membantunya. Semisalnya mempersiapkan sawah untuk masa penanaman yang baru ( memperbaiki saluran air dan pematang sawah, mencangkul, membajak, menggaru dan sebagainya. ( Koentjaranigrat)
JENIS- JENIS GOTONG ROYONG PADA MASYARAKAT BATAK
Pada awalnya istilah gotong royong dalam tradisi masyarakat toba ini bukan hanya di fokuskan pada pengerjaan sawah / ladang tetapi juga berbagai pekerjaan dalam kehidupan sehari-hari, pekerjaan bergotong royong ini dapat berupa :
A.Gotong royong dalam pesta pernikahan
B. Gotong royong dalam pembuatan jalan.
C. Gotong royong dalam acara duka cita ( mangaranggap)
D. gotong royong dalam berbagai acara lainnya.
Namun, dalam perkembangan selanjutnya istilah gotong royong ini hanya di fokuskan pada pengerjaan ladang / sawah. Hal ini di karenakan karena pada saat ini gotong pada acara acara seperti pesta untuk pengerjaannya ( memasak makanan, pembuatan teratak / tenda, dan lain lain) telah ada jasa yang menyediakaannya seperti catering ( jasa memasak).
1. MARSIADAPARI
Bulan Agustus – Sptember adalah masa panen di desa saya, setelah 6 bulan ( Januari – Juni ) masa tanam padi telah selesai. Kebiasaan waktu penulis masih SMA, bulan Agustus – September merupakan waktu yang sangat menyenangkan. Selain masa libur telah tiba , kami juga bisa bekerja dan mencari uang untuk tambahan uang jajan. Daripada bermain-main tanpa tujuan dan arah lebih baik kami mencari juma ( sawah ) untuk melakukan siadapari ( istilah orang di kampung penulis untuk menyatakan gotong royong)
Pada saat itu kebetulan penulis dan teman-teman dari sekolah yang berbeda ( STM GKPS, STM CINTA RAKYAT, STM GKPI dan penulis sendiri sekolah di SMEA HKBP) memang sedang libur. Kebiasaan para naposo di desa penulis jika sekolah libur maka para pemuda ( naposo) akan mambahas apa yang mau di kerjakan besok. Kebetulan untuk pekerjaan besok teman penulis mengajak untuk marsiadapari.
Marsiadapari merupakan pekerjaan yang sangat menyenangkan dan bukan pekerjaan yang membosankan walau satu hari penuh berjuang di dalam gambo ( lumpur) dan di panggang di bawah terik matahari). Di desa penulis sudah ada semacam aturan bahwa jika anak sekolah libur maka pekerjaan seperti mangombak ( membalikan tanah), manasapi ( membersihkan pematang sawah) , dan mambatangi (membentengi pematang sawah) adalah para pemuda ( naposo). Mungkin para orang tua beranggapan bahwa orang orang seperti inilah yang mempunyai semangat kerja dan cenderung burju ( tidak banyak akal).
Esok harinya setelah bangun pagi kami segera di kumpulkan oleh namboru pemilik sawah. Ternyata kami yang akan marsiadapari berjumlah 7 orang. ” adong do sakkul muna” ( adanya cangkul kalian?) tanya namboru pemilik sawah kepada kami, setelah melihat kami diam saja namboru pun berinisiatif untuk meminjam cangkul ke barendeng ( tetangga).
Kami ber 7 pun berangkat kesawah yang berjarak ± 2 KM . setelah sampai di sawah kami ber 7 pun mengambil kerja area masing- masing. Sawah yang kami kerjakan ada 12 batangi ( petak )
Marsiadapari yang akan kami kerjakan adalah manasapi dan mambatangi sabah ( sabah adalah istilah di desa penulis untuk menyebutkan areal pertanian yang memakai air sebagai indikator utama dalam pengelolahan sawah).
Dalam area sawah istilah batangi mengambarkan besarnya ( luas) dari sawah tersebut, di batangi ini terdapat juga galungan ( bagian bawah batangi). Sawah yang kami kerjakan mempunyai beberapa keunikan antara lain :
Pematang sawahnya panjang-panjang ( di sebut dengan istilah sawah kereta api), sempit. Sehingga tidak memungkinkan untuk di kerjakan dengan alat apa pun sekalipun dengan traktor kecuali dengan marsiadapari ini.
Semakin turun pematang ke bawah maka semakin rendah pematangnya dan luasnya bertambah.
Karena banyaknya sawah yang akan kami kerjakan maka dalam pengerjaan sawah tersebut kami memakai beberapa pertimbangan sebeluim marsiadapari yaitu :
Apakah kami mengerjakan dari bawah ke atas . Jika di kerkajakan dari bawah ke atas maka akan menimbulkan kebosanan dan kemalasan para anggota marsiadapari. Karena sawah yang di kerjakan ( bagian bawah) sempit dan kecil, jadi tidak akan puas jika yang di kerjakan yang keci dan sempit – sempit dahulu. Kemudian jika jadwal istirahat tiba maka akan kecapaian untuk naik ke atas ( sopo) .
Jika di kerjakan dari bagian tengah dahulu maka akan mengakibatkan kekacauan karena akan menyebabkan orang gurbak ulu ( bebal) kemudian jika di mulai dari tengah hasil yang di dapat akan kelihatan jelek.
Jika di lakukan dari atas ke bawah ( inilah cara yang sering di gunakan). Jika kita bekerja dari atas ke bawah maka sawah yang pertama selesai adalah sawah yang sempit-sempit. Hal ini akan menambah semangat para anggota untuk lebih memacu semangatnya untuk menyelesaikan pekerjaan.
Setelah mempertimbangkan hal di atas maka kami pun bekerja sesuai tugas dan area masing-masing. Penulis mendapat pekerjaan untuk manasapi. Sembari menancapkan cangkulnya ke lumpur, sesekali waja kami ber 7 pun berlepotan gambo ( lumpur ).
Setelah bekerja ± 3 jam maka kami pun beristirahat. Namboru pun datang sambil membawa sarapan berupa kue kering dan gorengan, tidak ketingaalan teh manis sebagai minuman kami. Setelah menghabiskan makanannya kamipun berteduh bembari meyulut rokok masing-masing. Setelah beristirahat kira-kira 15 menit kamipun kembali bekerja kembali.
Pada istirahat jam 12 kami pun makan siang. Sembari melihat pemilik sawah membawa bekal makan siang kami pun mencuci tangan dan badan kami yang kotor. ” ro ma hamu mangan, bissan las indahan ta on” ( mari lah kita makan, selagi hangat nasi kita ini). Menurut namboru makan dengan kondisi makanan yang hangat akan menhasilkan sensasi yang nikmat dan kesejukan. Kami pun makan dengan berbagai menu khas batak. Daging cincang beserta sambal khas batak , andaliman.
Setelah makan siang kami pun tidur sejenak sambil megumpulkan tenaga untuk pekerjaan selanjutnya.
Kami pun bekerja kembali, saat ini pekerjaan yang kami dapat kan telah menunjukan hasil 7 petak sawah telah selesai kami sasapi. Kami pun kembali istirahat sambil membahas rencana nanti malam. Kira kira jam 5 hari pun telah gelap, tetapi masih ada 2 petak sawah yang belum terselesaikan, kami bingung, pulang atau menyelesaikannya, kemudian datang namboru memecah kebingungan kami. ” mulak ma hamu, sogot ma hita karejoi muse” ( pulang sajalah kita , besok lagi kita kerjakan). Kami pun pulang dengan suasana hati yang girang. Sungguh menyenangkan marsiadapari, guman penulis dalam hati.
Langganan:
Postingan (Atom)