Selasa, 28 September 2010

FOLKLORE SI BORU PAREME DALAM MASYARAKAT BATAK
( SEBAGAL AWAL HAKEKAT HUBUNGAN SESAMA MANUSIA)

FERNANDES SINAGA
309122020
PEND. ANTROPOLOGI

Suku batak merupakan salah satu suku terbesar yang ada di Indonesia. Suku batak merupakan suku yang banyak mendiami daerah sumatera utara. Bertempat di sekitar pantai danau toba. Dalam sistem organisasi kemasyarakatan dan sisitem kekerabatannya, suku batak mempunyai hubungan yang sangat erat baik itu hubungan secara langsung ( horizontal) dan hubungan tidak langsung ( vertical). Kekerabatan yang sangat erat ini di tandai dengan adanya pemberian marga di belakang nama seseorang pada sebuah klan atau kelompok marga.masyarakat batak pada umumnya mengunakan sistem kekerabatan patrilineal ( pemberian marga di dasarkan ada garis keturunan/ marga dari pihak laki- laki / ayah).

Bukan hanya itu saja, kekerabatan yang erat di kalangan suku batak ini juga dapat di lihat dari falsafah dan pedoman hidup yang di gunakan antara sesama masyarakat. Suku batak mengenal falsafah DALIHAN NA TOLU (hula-hula/ pemberi isteri,boru dan dongan sabutuha /teman semarga). DALIHAN NA TOLU ini di jadikan sebagai dasar dalam menjalankan segala aktivitas kehidupan dalam sisitem sosial dan kekerabatan suku batak toba.

Mengapa DALIHAN NA TOLU ini di katakan sebagai asas dan falsafah dalam kehidupan sehari-hari dan dalam sistem kekerabatan suku batak toba?

Pada awalnya di kalangan masyarakat batak toba prinsip DALIHAN NA TOLU ini belum tertanam secara erat di dalam kehidupannya, dapat di katakan bahwa dahulu masyarakat batak toba hanya memelihara siitem kekerabatan marga. Dalam kelanjutannya marga ini hanya sebagai sistem kekerabatan saja, belum ada pembatasan antara seorang hula- hula, boru dan dongan sabutuha. Akibat tidak adanya batasan di antara 3 unsur DALIHAN NA TOLU ini maka terjadilah satu peristiwa yang di anggap sebagai awal lahirnya DALIHAN NA TOLU ini. Peristiwa itu adalah terjadinya krisis kekerabatan antara 3 unsur DALIHAN NA TOLU tersebut sebagai akibat tidak adanya batasan di antara ke 3 nya( terjadi pada zaman generasi ke -3 si raja batak). Perkawinan sumbang ( incest) antara siboru pareme dan saribu raja yang sebenarnya adalah perkawinan antara seorang anak dengan seorang ibu. Peristiwa ini mengakibatkan terjadinya perpecahan di pomparan ( kumpulan) tatea bulan. Untuk mengatasi peristiwa yang memalukan ini , maka mereka berinisiatif untuk melakukan pembatasan di antara ke-3 unsur tadi yaitu dengan membentuk DALIHAN NA TOLU.

keeratan sistem kekerabatan yang berasaskan DALIHAN NA TOLU ini tampak pada upacara –upacara adat masyarakat batak da didalam kehidupan sehari-hari

Pada upacara perkawinan tampak pada pemberian ulos (kain adat) oleh masing – masing kerabat kepada mempelai. Ulos itu berasal dari tulang/paman, amang boru dan dongan sabutuha. Fungsi ulos itu bukan hanya sebagai simbol adat dan aplikasi teori taken and give ( memberi dan menerima), tetapi pemberian ulos itu di maksudkan sebagai pengikat dan sebagai tanda bahwa di antara mereka terdapat suatu ikatan yang sangat erat.

Pada upacara kematian aplikasi DALIHAN NA TOLU ini tampak pada musyawarah di antara keturunan yang meninggal untuk menentukan hari penguburan. Orang batak di kenal sebagai bangsa yang sangat gemar nomaden dan merantau dan pada umumya orang batak berhasil di perantauan. Jika ada orang yang meninggal di kampung(orang tua, nenek. dsb), maka untuk melaksanakan pesta adat penguburannya, anak dan kerabat yang berada di perantauan tersebut harus dan wajib hadir. Walaupun sampai menunggu waktu yang lama dam memakan biaya yang banyak. Dan jika memang harus tidak dapat hadir maka di antara pihak kerabat di laksanakan musyawarah yang di sebut Mariah raja. Tujuannya adalah untuk membahas acara dan menentukan hari penguburan.

Kekerabatan ini tidak hanya di aplikasikan dalam setiap aktivitas yang berbau adat, tetapi juga dalam pemerintahan. Di dalam pemerintahan kekerabatan yang erat ini tampak jelas. Klan / marga siapa yang berkuasa /memegang suatu jabatan, maka anggota-anggota bawahannya sama dengan marga si pemegang kekuasaan. Bukan bertujuan nepotisme, tetapi dalam menentukan siapa yang pantas untuk bekerjasama dengan kita tentu kita harus mengetahui bobot dan siapa orang itu sebenarnya. Lagi pula di kalangan masyarakat batak sangat jarang di temukan orang – orang yang mau menghianati teman semarganya.

3 wilayah cakupan DALIHAN NA TOLU itu mungkin sudah cukup untuk menjelaskan bagaimana eratnya hubungan di antara masyarakat batak. Hubungan ini juga banyak di masukan dalam folklore yang berupa cerita rakyat. Pernyataan ini juga menunjukan bahwa di antara masyarakat batak hakekat hubungan dengan sesama manusia sangat erat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar