Selasa, 28 September 2010

MARSIADAPARI ( mempertahankan warisan lokal suku batak toba)

PENGERTIAN GOTONG ROYONG

Gotong royong yang kita nilai tinggi merupakan satu konsep yang kita nilai tinggi. Yang merupakan satu konsep yang erat bersangkut paut dengan kehidupan rakyat kita sebagai petani dalam masyarakat agraris. . . . . .gotong royong merupakan sisitem pengetahuan tenaga tambahan dari luar kalangan keluarga untuk mengisi kekurangan tenaga dalam masa-masa sibuk dalam lingkaran aktivitas produksi bercocok tanam di sawah, untuk itu seorang petani meminta dengan sopan santun yang sudah tetap, beberapa orang lain sedesanya untuk membantunya. Semisalnya mempersiapkan sawah untuk masa penanaman yang baru ( memperbaiki saluran air dan pematang sawah, mencangkul, membajak, menggaru dan sebagainya. ( Koentjaranigrat)

JENIS- JENIS GOTONG ROYONG PADA MASYARAKAT BATAK
Pada awalnya istilah gotong royong dalam tradisi masyarakat toba ini bukan hanya di fokuskan pada pengerjaan sawah / ladang tetapi juga berbagai pekerjaan dalam kehidupan sehari-hari, pekerjaan bergotong royong ini dapat berupa :
A.Gotong royong dalam pesta pernikahan
B. Gotong royong dalam pembuatan jalan.
C. Gotong royong dalam acara duka cita ( mangaranggap)
D. gotong royong dalam berbagai acara lainnya.
Namun, dalam perkembangan selanjutnya istilah gotong royong ini hanya di fokuskan pada pengerjaan ladang / sawah. Hal ini di karenakan karena pada saat ini gotong pada acara acara seperti pesta untuk pengerjaannya ( memasak makanan, pembuatan teratak / tenda, dan lain lain) telah ada jasa yang menyediakaannya seperti catering ( jasa memasak).

1. MARSIADAPARI

Bulan Agustus – Sptember adalah masa panen di desa saya, setelah 6 bulan ( Januari – Juni ) masa tanam padi telah selesai. Kebiasaan waktu penulis masih SMA, bulan Agustus – September merupakan waktu yang sangat menyenangkan. Selain masa libur telah tiba , kami juga bisa bekerja dan mencari uang untuk tambahan uang jajan. Daripada bermain-main tanpa tujuan dan arah lebih baik kami mencari juma ( sawah ) untuk melakukan siadapari ( istilah orang di kampung penulis untuk menyatakan gotong royong)
Pada saat itu kebetulan penulis dan teman-teman dari sekolah yang berbeda ( STM GKPS, STM CINTA RAKYAT, STM GKPI dan penulis sendiri sekolah di SMEA HKBP) memang sedang libur. Kebiasaan para naposo di desa penulis jika sekolah libur maka para pemuda ( naposo) akan mambahas apa yang mau di kerjakan besok. Kebetulan untuk pekerjaan besok teman penulis mengajak untuk marsiadapari.
Marsiadapari merupakan pekerjaan yang sangat menyenangkan dan bukan pekerjaan yang membosankan walau satu hari penuh berjuang di dalam gambo ( lumpur) dan di panggang di bawah terik matahari). Di desa penulis sudah ada semacam aturan bahwa jika anak sekolah libur maka pekerjaan seperti mangombak ( membalikan tanah), manasapi ( membersihkan pematang sawah) , dan mambatangi (membentengi pematang sawah) adalah para pemuda ( naposo). Mungkin para orang tua beranggapan bahwa orang orang seperti inilah yang mempunyai semangat kerja dan cenderung burju ( tidak banyak akal).
Esok harinya setelah bangun pagi kami segera di kumpulkan oleh namboru pemilik sawah. Ternyata kami yang akan marsiadapari berjumlah 7 orang. ” adong do sakkul muna” ( adanya cangkul kalian?) tanya namboru pemilik sawah kepada kami, setelah melihat kami diam saja namboru pun berinisiatif untuk meminjam cangkul ke barendeng ( tetangga).
Kami ber 7 pun berangkat kesawah yang berjarak ± 2 KM . setelah sampai di sawah kami ber 7 pun mengambil kerja area masing- masing. Sawah yang kami kerjakan ada 12 batangi ( petak )
Marsiadapari yang akan kami kerjakan adalah manasapi dan mambatangi sabah ( sabah adalah istilah di desa penulis untuk menyebutkan areal pertanian yang memakai air sebagai indikator utama dalam pengelolahan sawah).
Dalam area sawah istilah batangi mengambarkan besarnya ( luas) dari sawah tersebut, di batangi ini terdapat juga galungan ( bagian bawah batangi). Sawah yang kami kerjakan mempunyai beberapa keunikan antara lain :
 Pematang sawahnya panjang-panjang ( di sebut dengan istilah sawah kereta api), sempit. Sehingga tidak memungkinkan untuk di kerjakan dengan alat apa pun sekalipun dengan traktor kecuali dengan marsiadapari ini.
 Semakin turun pematang ke bawah maka semakin rendah pematangnya dan luasnya bertambah.
Karena banyaknya sawah yang akan kami kerjakan maka dalam pengerjaan sawah tersebut kami memakai beberapa pertimbangan sebeluim marsiadapari yaitu :
 Apakah kami mengerjakan dari bawah ke atas . Jika di kerkajakan dari bawah ke atas maka akan menimbulkan kebosanan dan kemalasan para anggota marsiadapari. Karena sawah yang di kerjakan ( bagian bawah) sempit dan kecil, jadi tidak akan puas jika yang di kerjakan yang keci dan sempit – sempit dahulu. Kemudian jika jadwal istirahat tiba maka akan kecapaian untuk naik ke atas ( sopo) .
 Jika di kerjakan dari bagian tengah dahulu maka akan mengakibatkan kekacauan karena akan menyebabkan orang gurbak ulu ( bebal) kemudian jika di mulai dari tengah hasil yang di dapat akan kelihatan jelek.
 Jika di lakukan dari atas ke bawah ( inilah cara yang sering di gunakan). Jika kita bekerja dari atas ke bawah maka sawah yang pertama selesai adalah sawah yang sempit-sempit. Hal ini akan menambah semangat para anggota untuk lebih memacu semangatnya untuk menyelesaikan pekerjaan.
Setelah mempertimbangkan hal di atas maka kami pun bekerja sesuai tugas dan area masing-masing. Penulis mendapat pekerjaan untuk manasapi. Sembari menancapkan cangkulnya ke lumpur, sesekali waja kami ber 7 pun berlepotan gambo ( lumpur ).
Setelah bekerja ± 3 jam maka kami pun beristirahat. Namboru pun datang sambil membawa sarapan berupa kue kering dan gorengan, tidak ketingaalan teh manis sebagai minuman kami. Setelah menghabiskan makanannya kamipun berteduh bembari meyulut rokok masing-masing. Setelah beristirahat kira-kira 15 menit kamipun kembali bekerja kembali.


Pada istirahat jam 12 kami pun makan siang. Sembari melihat pemilik sawah membawa bekal makan siang kami pun mencuci tangan dan badan kami yang kotor. ” ro ma hamu mangan, bissan las indahan ta on” ( mari lah kita makan, selagi hangat nasi kita ini). Menurut namboru makan dengan kondisi makanan yang hangat akan menhasilkan sensasi yang nikmat dan kesejukan. Kami pun makan dengan berbagai menu khas batak. Daging cincang beserta sambal khas batak , andaliman.
Setelah makan siang kami pun tidur sejenak sambil megumpulkan tenaga untuk pekerjaan selanjutnya.
Kami pun bekerja kembali, saat ini pekerjaan yang kami dapat kan telah menunjukan hasil 7 petak sawah telah selesai kami sasapi. Kami pun kembali istirahat sambil membahas rencana nanti malam. Kira kira jam 5 hari pun telah gelap, tetapi masih ada 2 petak sawah yang belum terselesaikan, kami bingung, pulang atau menyelesaikannya, kemudian datang namboru memecah kebingungan kami. ” mulak ma hamu, sogot ma hita karejoi muse” ( pulang sajalah kita , besok lagi kita kerjakan). Kami pun pulang dengan suasana hati yang girang. Sungguh menyenangkan marsiadapari, guman penulis dalam hati.

1 komentar:

  1. mantap.hhhhhhhhhhhhhhhhh.............................
    saya suka gaya elo seorang mahasiswa antropologi unimed. mauliate iho jreng... selamat malam

    BalasHapus